HeadlineSurabaya

Dulu Jadi Tempat Para Kiai Perjuangkan Bangsa, Kini Gedung PCNU Surabaya Menanti Perhatian

×

Dulu Jadi Tempat Para Kiai Perjuangkan Bangsa, Kini Gedung PCNU Surabaya Menanti Perhatian

Sebarkan artikel ini
Gedung Bersejarah NU Surabaya Mulai Rapuh, PCNU Kembang Kempis Rawat Cagar Budaya Tanpa Bantuan Pemkot Surabaya / Foto. : Istimewa.

KaMedia – Di balik kokohnya bangunan tua di Jalan Bubutan VI/2 Surabaya, tersimpan kisah panjang perjuangan para ulama Nahdlatul Ulama (NU). Namun kini, gedung bersejarah yang menjadi saksi lahirnya gagasan besar bangsa itu perlahan menua, rapuh, dan bertahan di tengah keterbatasan biaya perawatan.

Gedung Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya yang telah berdiri sejak 1909 itu resmi berstatus cagar budaya tipe A. Ironisnya, hingga kini pengurus PCNU mengaku harus berjibaku sendiri menanggung biaya perawatan gedung tanpa dukungan anggaran dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Ketua PCNU Surabaya, KH Masduki Toha, menyampaikan kegelisahannya saat menerima kunjungan silaturahmi pimpinan DPRD Kota Surabaya, Selasa (19/5/2026). Dengan nada lirih, ia menegaskan bahwa bangunan tersebut bukan sekadar kantor organisasi, melainkan bagian penting dari sejarah bangsa.

“Ini cagar budaya milik Pemkot, bukan milik pribadi. Sertifikatnya sudah selesai 2024 atas nama Perkumpulan Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Di gedung tua itulah dahulu para kiai berkumpul, berdiskusi, hingga melahirkan Resolusi Jihad yang menjadi spirit perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namun kini, bangunan bersejarah itu justru menghadapi ancaman kerusakan akibat usia yang telah melampaui satu abad.

Masduki mengungkapkan, biaya listrik dan air selama ini sepenuhnya ditanggung PCNU. Tidak ada bantuan rutin dari pemerintah untuk menopang operasional maupun perawatan bangunan cagar budaya tersebut.

“Listrik di sini kita yang bayar, enggak pernah Pemkot bayar. Air juga begitu. Kita yang bayar, bukan pemerintah,” ungkapnya.

Di beberapa sudut bangunan, usia tampak meninggalkan jejaknya. Kayu-kayu mulai keropos dimakan usia dan rayap. Genteng tua yang sudah bertahan lebih dari seratus tahun belum pernah diganti. Perbaikan seadanya pernah dilakukan lewat bantuan internal hingga uluran tangan pihak lain, termasuk perbankan, sekitar tujuh hingga sepuluh tahun silam.

“Ini rumah gentengnya enggak pernah ganti. Yang berubah hanya ruang. Kita cek sebenarnya ada semut-semut, tapi yang penting rapi dan ikhlas,” katanya sambil tersenyum getir.

Bagi PCNU Surabaya, merawat gedung ini bukan sekadar menjaga tembok dan atap tua. Mereka sedang menjaga ingatan sejarah, menjaga jejak perjuangan ulama, sekaligus mempertahankan marwah organisasi yang lahir dari rahim perjuangan bangsa.

Masduki berharap kedatangan pimpinan DPRD Surabaya menjadi jalan pembuka agar ada perhatian lebih serius dari Pemkot terhadap gedung yang menyimpan nilai historis tinggi tersebut.

“Setelah teman-teman DPRD komunikasi ke sini, kami akan kirim surat bersama beberapa kiai. Biar antara DPRD, Pemkot, dan NU Surabaya nyambung dalam rangka mengurus anggaran perawatan,” tandasnya.

Di sisi lain, Ketua DPRD Kota Surabaya, Syaifuddin Zuhri, menyatakan pihaknya siap menindaklanjuti apabila ada pengajuan resmi dari PCNU Surabaya. Namun ia mengingatkan seluruh proses harus tetap mengikuti aturan administrasi negara.

“Yang penting menunjukkannya. Kita khawatir salah, sehingga ini jadi jelek nama besar NU yang menerima sesuatu hal yang tidak sesuai aturan tata usaha negara,” tegasnya.

Di tengah hiruk pikuk pembangunan kota modern, gedung tua PCNU Surabaya seolah berdiri sendirian melawan waktu. Dinding-dinding tuanya masih menyimpan gema perjuangan para ulama, tetapi kini menunggu uluran tangan agar sejarah itu tidak perlahan runtuh dimakan usia.