KaMedia – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak aparatur sipil negara (ASN) menjadi pemimpin yang adaptif, inovatif, dan tangguh menghadapi perubahan global yang semakin cepat dan kompleks.
Pesan itu disampaikan Khofifah saat membuka Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XI Tahun 2026 yang dirangkai dengan penutupan Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS Golongan III Angkatan 59, 60, dan 61 di Kantor BPSDM Jawa Timur, Balongsari, Tandes, Surabaya, Selasa (19/5/2026).
Sebanyak 52 peserta mengikuti PKN II Angkatan XI, sementara Latsar CPNS diikuti 127 peserta.
Di hadapan peserta, Khofifah menegaskan ASN saat ini tidak cukup hanya bekerja secara administratif. Menurutnya, birokrasi membutuhkan sosok strategic leader yang mampu menjadi penggerak perubahan sekaligus menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
“Saya berharap kegiatan ini melahirkan strategic leader yang adaptif, mampu menghadirkan inovasi, proyek perubahan, dan tata kelola pemerintahan yang berdampak langsung bagi masyarakat,” kata Khofifah.
Ia menjelaskan, kepemimpinan adaptif ditandai dengan kemampuan berpikir terbuka, cepat membaca perubahan, dan berani menciptakan inovasi di tengah tantangan zaman.
“Adaptif itu bagaimana kita bisa merencanakan masa depan dengan belajar dari pengalaman masa lalu,” ujarnya.
Khofifah juga mengingatkan pentingnya semangat belajar bagi ASN agar mampu menghadapi perubahan dunia yang bergerak sangat cepat, mulai dari perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, perubahan iklim, hingga ancaman krisis pangan global.
“Ayo belajar, belajar, belajar. Setiap tantangan pasti ada peluang. Gunakan analisis SWOT, strengths, weaknesses, opportunities, dan threats,” tegasnya.
Menurut Khofifah, birokrasi tidak boleh berjalan dengan pola lama. Pemerintah harus lebih responsif, kolaboratif, dan berbasis inovasi agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara cepat dan tepat.
“Bangun kepemimpinan yang melayani dan birokrasi yang kolaboratif,” pesannya.
Di tengah tantangan global, Khofifah menyebut Jawa Timur tetap menunjukkan kinerja ekonomi yang kuat. Pada Triwulan I Tahun 2026, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96 persen atau tertinggi di Pulau Jawa dan melampaui rata-rata nasional.
Tak hanya itu, Jawa Timur juga mempertahankan posisi sebagai produsen padi dan beras terbesar nasional pada 2025 dengan produksi padi mencapai 10,57 juta ton GKG dan produksi beras sekitar 6,1 juta ton.
Menurut Khofifah, capaian tersebut menjadi bukti pentingnya kepemimpinan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, perubahan iklim, dan dinamika global.
“Prestasi ini lahir dari kerja kolaboratif dan kemampuan kita beradaptasi terhadap perubahan,” katanya.
Ia pun mengingatkan ASN agar tidak bekerja secara individual dan merasa paling hebat.
“Jangan pernah merasa paling pintar atau paling berprestasi. Tidak ada kesuksesan yang dicapai sendirian,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI Muhammad Taufiq menegaskan bahwa kemampuan adaptasi ASN sangat bergantung pada kemauan untuk terus belajar.
“Adaptif itu kuncinya belajar. Dengan belajar, birokrasi akan mampu mengikuti perubahan bahkan menjadi trend setter,” katanya.
Ia juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam meningkatkan kompetensi ASN melalui berbagai program pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia.











