EkonomiHeadlineJatim

Ekonomi Jatim Ngebut Hampir 6 Persen, Tertinggi Se-Jawa di Tengah Tekanan Global

×

Ekonomi Jatim Ngebut Hampir 6 Persen, Tertinggi Se-Jawa di Tengah Tekanan Global

Sebarkan artikel ini

KaMedi – Jawa Timur kembali menunjukkan taringnya sebagai motor ekonomi nasional. Di tengah situasi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, pertumbuhan ekonomi Jatim pada Triwulan I Tahun 2026 justru melesat hingga 5,96 persen (year-on-year/y-on-y), tertinggi di Pulau Jawa dan melampaui rata-rata nasional.

Gubernur Khofifah Indar Parawansa menyebut capaian tersebut sebagai bukti nyata bahwa ekonomi Jawa Timur tetap tangguh sekaligus mampu berakselerasi di tengah tekanan global.

“Alhamdulillah, di tengah tantangan global yang masih dinamis, ekonomi Jawa Timur mampu tumbuh tertinggi se-Jawa dan melampaui nasional. Ini patut kita syukuri sekaligus menjadi motivasi untuk terus memperkuat fondasi ekonomi daerah,” ujar Khofifah di Surabaya, Kamis (7/5/2026).

Tak hanya unggul secara tahunan, ekonomi Jawa Timur juga tetap tumbuh positif secara quarter-to-quarter (q-to-q) sebesar 1,25 persen dibanding Triwulan IV Tahun 2025. Angka ini menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat masih bergerak aktif dan produktif.

Kekuatan ekonomi Jawa Timur sendiri masih ditopang tiga sektor utama, yakni industri pengolahan sebesar 31,45 persen, perdagangan 18,77 persen, dan pertanian 10,51 persen. Kombinasi tiga sektor tersebut menjadi mesin utama yang menjaga denyut ekonomi Jatim tetap stabil.

Tak heran jika Jawa Timur kini menjadi kontributor terbesar kedua terhadap perekonomian nasional setelah DKI Jakarta, dengan sumbangan mencapai 14,40 persen. Sementara di tingkat Pulau Jawa, kontribusi Jatim tercatat sebesar 25,16 persen.

Menariknya, pertumbuhan tertinggi justru datang dari sektor jasa lainnya yang melonjak hingga 13,44 persen. Lonjakan ini dipicu meningkatnya aktivitas rekreasi, hiburan, dan pariwisata sepanjang Januari hingga Maret 2026.

Selain itu, sektor akomodasi dan makan minum juga ikut terkerek berkat meningkatnya mobilitas masyarakat dan pelaksanaan Program Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berdampak langsung pada perputaran ekonomi lokal.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi pendorong utama pertumbuhan dengan kenaikan mencapai 20,33 persen. Faktor pendorongnya antara lain pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) ASN Tahun 2026 hingga peningkatan belanja barang dan jasa untuk masyarakat, termasuk program MBG.

Di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya stabil, Pemprov Jatim juga terus menjaga momentum ekonomi melalui berbagai langkah strategis. Mulai dari pengendalian inflasi, pasar murah, stabilisasi pasokan pangan, hingga penguatan perdagangan antardaerah dan ekspor.

Salah satu strategi andalan yang terus digenjot adalah Misi Dagang dan Investasi. Sepanjang 2025, Pemprov Jawa Timur sukses menggelar misi dagang di 12 provinsi dengan total transaksi mencapai Rp16,30 triliun.

Memasuki 2026, capaian tersebut terus berlanjut. Misi Dagang di Jawa Tengah mencatat transaksi Rp3,15 triliun, sementara di DKI Jakarta mencapai Rp5,74 triliun. Bahkan, misi dagang ke Malaysia membukukan potensi transaksi fantastis sebesar Rp15,25 triliun.

“Misi dagang menjadi instrumen penting dalam memperkuat perdagangan antardaerah sekaligus memperluas pasar produk Jawa Timur,” terang Khofifah.

Di akhir keterangannya, Khofifah menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Timur merupakan hasil sinergi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga stabilitas dan kondusivitas daerah.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang terus bersinergi dan berkolaborasi menjaga Jawa Timur tetap aman, kondusif, dan produktif sebagai Gerbang Baru Nusantara,” pungkasnya.