KaMedia – Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai kegiatan Halal Bihalal yang digelar PCNU Surabaya di Kantor HBNO, Jalan Bubutan, Minggu (12/4). Namun di balik nuansa silaturahmi itu, terselip pesan serius: pentingnya sinergi antara eksekutif, legislatif, dan elemen masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan umat, terutama di tengah tekanan krisis global.
Acara yang rutin digelar setiap bulan Syawal ini dihadiri sejumlah tokoh penting, mulai dari Rais Syuriah PCNU Surabaya KH. Dzul Hilmi, Ketua PCNU Surabaya H. Masduki Toha, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, hingga Sekda Kota Surabaya Lilik Arijanto. Turut hadir pula perwakilan lintas organisasi, tokoh agama, hingga partai politik yang memiliki kursi di DPRD Surabaya.
Ketua PCNU Surabaya H. Masduki Toha menghidupkan kembali pesan pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari. Dengan nada penuh makna, ia menegaskan bahwa mengurus NU bukan sekadar organisasi, melainkan pengabdian.
“Siapa yang mau mengurus NU, maka dia santriku,” ujarnya, mengutip pesan sang ulama besar.
Masduki menekankan bahwa kekuatan NU terletak pada kedekatannya dengan masyarakat hingga tingkat paling bawah. Hal ini membuat NU sangat memahami persoalan umat yang nyata di lapangan.
“NU ini besar, sampai ke ranting. Kami tahu betul masalah umat. Tapi kami titipkan NU kepada panjenengan semua, karena yang punya kewenangan dan anggaran ada di pemerintah dan DPRD,” tegasnya.
Ia pun mendorong terciptanya hubungan yang tidak sekadar formal, tetapi benar-benar simbiosis mutualisme, saling menguatkan dan memberi manfaat. Sorotan tajam juga disampaikan terkait meningkatnya persoalan sosial di Surabaya. Masduki mengungkapkan keprihatinannya terhadap maraknya kriminalitas, khususnya pencurian kendaraan bermotor.
“Bukan lagi ratusan, tapi sudah ribuan kasus. Ini harus jadi perhatian serius,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia juga menyinggung fenomena rokok elektrik yang mulai disusupi narkoba dan berpotensi merusak generasi muda.
“Kalau ini dibiarkan, kita bisa kehilangan arah. Generasi muda kita bisa jadi linglung,” katanya dengan nada khawatir.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan komitmennya untuk membangun kota dengan pendekatan kolaboratif berbasis nilai keagamaan.
“Saya ingin menggerakkan Surabaya dengan nilai Ahlusunnah Wal Jamaah. Tidak bisa pemerintah berjalan sendiri,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan adanya program pembinaan pemuda dengan anggaran Rp 5 juta per bulan di tingkat RW. Program ini diharapkan bisa bersinergi dengan organisasi seperti NU dan Ansor agar lebih tepat sasaran.
“Saya berharap NU bisa mendampingi. Karena kekuatan pembinaan itu ada di masyarakat,” tambahnya.
Eri bahkan menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak diukur dari popularitas pribadi, melainkan dari keterlibatan kolektif seluruh elemen.
“Kalau anak muda ditanya wali kota lalu jawabannya hanya Eri Cahyadi, berarti saya belum berhasil. Tapi kalau mereka menjawab PCNU, itu tandanya kita berhasil membangun bersama,” pungkasnya.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa momentum Halal Bihalal bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga ruang strategis untuk menyatukan langkah dalam menjawab tantangan umat di tengah dinamika zaman.











