Olahraga

Dewa United Siap Tempur di Perempat Final AFC Challenge League, Bidik Kemenangan di Leg Pertama di Manila

×

Dewa United Siap Tempur di Perempat Final AFC Challenge League, Bidik Kemenangan di Leg Pertama di Manila

Sebarkan artikel ini
Dewa United siap tempur di babak perempat final AFC Challenge League/Foto: Instgaram Dewa United

KaMedia – Satu-satunya wakil Indonesia yang tersisa di kancah Asia, Dewa United, bersiap menghadapi tantangan besar pada babak perempat final AFC Challenge League 2026.

Dewa United Banten akan bertandang ke markas klub Filipina, Manila Digger FC di Stadion Rizal Memorial, Manila pada leg pertama perempat final AFC Challenge League dengan, Kamis (5/3) malam. Laga ini menjadi momentum penting bagi Banten Warriors–julukan Dewa Unied, untuk terbang tinggi di kancah Asia.

Dalam sesi Pre Match Press Conference yang digelar di Ruang Konferensi Pers Stadion Rizal Memorial, Rabu (4/3) malam, pelatih Dewa United, Jan Olde Riekerink menegaskan tekad timnya untuk melangkah sejauh mungkin di turnamen ini.

“Saya pikir hal ini berlaku untuk setiap turnamen. Anda mengikuti turnamen tentu dengan tujuan untuk memenangkannya,” ujarnya dengan penuh keyakinan dikutip dari laman resmi ileague.id.

Lebih lanjut, pelatih berkebangsaan Belanda ini mengungkapkan bahwa timnya telah berada di Manila selama dua hari guna melakukan adaptasi, terutama menghadapi perbedaan kondisi lapangan.

Ya, pertandingan di markas Manila Digger FC ini akan dimainkan di lapangan rumput sintetis. Namun, Riekerink menyebut Ricky Kambuaya dan kawan-kawannya sudah siap tempur.

“Saat ini kami sudah berada di sini selama dua hari. Kami akan bermain dalam kondisi yang berbeda, di atas lapangan buatan. Namun, saya rasa dengan latihan kemarin dan hari ini, semoga itu cukup untuk beradaptasi,” tuturnya.

“Besok [hari ini] kita akan lihat hasilnya. Pertandingan ini berjalan dalam dua laga, jadi membuat pilihan strategi demi hasil pertandingan juga penting,” tambahnya.

Tak hanya berbicara tentang kesiapan timnya, Riekerink juga menunjukkan pemahamannya terhadap karakter permainan lawan. Ia mengaitkan pengalamannya melatih di Afrika Selatan sebagai modal membaca kekuatan Manila Digger FC.

“Saya pernah bekerja selama dua tahun di Afrika Selatan, dan banyak pemain mereka berasal dari Gambia. Saya melihat gaya permainan yang sama di sana,” terangnya.

“Mereka bermain dengan identitas yang jelas, yang juga dibentuk dari akar Afrika para pemainnya. Selain itu, saat di Cape Town City, saya terbiasa menghadapi tim-tim seperti ini, sehingga saya juga memahami kekuatan dan kelemahan kualitas sepak bola Afrika,” tutupnya.