KaMedia– Suasana haru dan khidmat menyelimuti Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada Senin (2/3) malam. Ribuan jamaah memadati ruang utama masjid untuk melaksanakan Shalat Ghaib bagi almarhum Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia sekaligus pendiri masjid kebanggaan warga Jawa Timur tersebut.
Shalat Ghaib dipimpin langsung oleh Imam Besar MAS, DR HA Muzzaky Al-Hafidz MAg. Lantunan doa dan istighfar menggema, memohonkan ampunan dan tempat terbaik di sisi Allah SWT bagi almarhum yang dikenal sebagai prajurit, negarawan, dan tokoh pembangunan.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, turut menyampaikan duka cita mendalam atas nama masyarakat Jawa Timur.
“Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Bagi kami di Jatim, beliau adalah putra terbaik Indonesia yang lahir di Surabaya dan pendiri Masjid Nasional Al-Akbar. Semoga masjid ini menjadi amal jariyah beliau,” ujarnya penuh haru.
Menurut Khofifah, almarhum merupakan sosok pemimpin bersahaja, tegas, dan penuh dedikasi dalam menjaga kedaulatan negara serta membangun pemerintahan. Pengabdiannya menjadi teladan lintas generasi.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa almarhum, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengimbau masyarakat untuk mengibarkan Bendera Merah Putih setengah tiang selama dua hari, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 Pasal 12 ayat (5), yang mengatur penghormatan bagi mantan Presiden dan Wakil Presiden yang wafat.
Pihak Masjid Al-Akbar juga mengibarkan bendera setengah tiang sebagai simbol duka dan penghormatan. Humas MAS, H Helmy M Noor, menyampaikan bahwa almarhum bukan hanya pendiri, tetapi juga Ketua Dewan Pembina Masjid Al-Akbar yang memiliki peran besar dalam perjalanan pembangunannya.
Try Sutrisno tercatat sebagai peletak batu pertama pembangunan masjid pada 4 Agustus 1995, di tengah kondisi ekonomi nasional yang sedang dilanda krisis moneter. Dengan semangat dan komitmen yang kuat, pembangunan terus berjalan hingga akhirnya masjid diresmikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada 10 November 2000.
Kini, Masjid Nasional Al-Akbar berdiri megah sebagai salah satu ikon Islam di Indonesia, menjadi saksi dedikasi dan warisan amal jariyah seorang pemimpin bangsa. Doa-doa yang terpanjat malam itu menjadi bukti bahwa jasa dan pengabdian almarhum akan terus hidup dalam ingatan umat.











