KaMedia – Isu potensi gempa megathrust kembali menjadi perhatian masyarakat. Di tengah kekhawatiran yang berkembang, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Surabaya, H. Budi Leksono, S.H., meminta instansi terkait segera meningkatkan sosialisasi dan mitigasi bencana, sekaligus mengimbau masyarakat agar tidak panik.
Buleks, sapaan akrab H. Budi Leksono, Ketua Fraksi PDIP DPRD Surabaya menilai langkah antisipasi jauh lebih penting daripada larut dalam berbagai informasi dan prediksi yang beredar, khususnya di media sosial.
Menurutnya, Indonesia berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, yang merupakan jalur pertemuan lempeng tektonik dan dikenal memiliki aktivitas gempa serta vulkanik tinggi. Akumulasi energi pada zona tertentu berpotensi memicu gempa besar apabila terjadi pelepasan energi.
Namun demikian, waktu terjadinya gempa megathrust hingga kini tidak dapat dipastikan secara tepat. Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah mempercayai ramalan yang menyebut gempa akan terjadi dalam waktu dekat.
” Saya mengimbau masyarakat tidak perlu panik. Yang harus dilakukan adalah memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Saya juga telah berkoordinasi untuk mendorong BPBD Kota Surabaya agar tanggap melakukan sosialisasi kepada masyarakat,” tegas Buleks, Jumat (11/09/2026) siang.
Ia menjelaskan, mitigasi merupakan upaya penting untuk mengurangi risiko serta dampak buruk yang ditimbulkan bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.
” Untuk melakukan serangkaian upaya mengurangi risiko dan dampak buruk akibat bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. Hal ini berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Kegiatan mitigasi bencana ini penting untuk menekan korban jiwa serta kerugian materi,” ujarnya.
Buleks juga mengingatkan masyarakat agar tetap berdoa, bertawakal, sekaligus berikhtiar dengan mengikuti seluruh imbauan pemerintah.
” Tak ada satu pun manusia di muka bumi ini menginginkan musibah atau bencana. Namun jika pertanda alam telah semakin jelas, maka kita sebagai manusia harus selalu tetap bertawakal dan berikhtiar untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan tersebut,” ungkapnya.
Ia juga meminta Pemkot Surabaya lebih intensif memberikan edukasi agar masyarakat memahami apa yang harus dilakukan sebelum, saat, maupun setelah terjadi bencana.
” Ketika masyarakat telah teredukasi soal isu megathrust, masyarakat akan memahami harus bagaimana, di mana dan ke mana jika hal ini benar-benar terjadi. Mitigasi bencana harus dipahami oleh masyarakat,” kata Buleks.
Lebih lanjut, Buleks kembali meminta warga tidak panik menghadapi berbagai informasi di media sosial yang mengklaim gempa besar akan terjadi dalam waktu dekat.
“Sekali lagi, tidak perlu panik. Masyarakat diimbau fokus pada mitigasi bencana, seperti mengenali jalur evakuasi dan menyiapkan tas siaga bencana sesuai ketentuan yang telah ditetapkan,” pungkasnya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Surabaya disebut tengah menyiapkan rencana pemasangan alat monitoring untuk memantau pergerakan sesar aktif dengan menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem pemantauan sekaligus mendukung kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana gempa.











