KaMedia – Pagi Idul Fitri di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya terasa begitu hangat dan penuh haru. Puluhan ribu jamaah memadati area masjid, saling bersalaman, saling memaafkan, dan merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.
Di tengah suasana itu, Imam Besar Ali Azis menyampaikan pesan yang sederhana, namun dalam, Ramadhan seharusnya tidak berhenti sebagai ritual, tetapi berlanjut menjadi dampak nyata dalam kehidupan.
“Selama sebulan kita belajar menahan diri dan berbagi. Itu artinya kita sedang dilatih menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya di hadapan sekitar 50 ribu jamaah, termasuk Syaifullah Yusuf, Khofifah Indar Parawansa, dan Emil Elestianto Dardak.
Dalam khutbahnya, Prof. Ali Azis mengajak jamaah merenung, manusia terbaik bukan yang paling banyak bicara, tetapi yang paling terasa manfaatnya.
Ia mengutip pesan Nabi tentang “Anfa’uhum linnas”, sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna bagi sesama. Dari situlah lahir sosok yang membawa kebaikan, bukan masalah.
“Muslim itu seharusnya hadir sebagai solusi. Bukan justru menjadi sumber persoalan, baik bagi sesama manusia maupun lingkungan,” ujarnya.
Untuk menggambarkan dampak besar, ia menyebut nama-nama ilmuwan dunia seperti Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi dan Ibnu Sina, hingga tokoh bangsa seperti Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari. Namun, ia menegaskan bahwa menjadi “berdampak” tidak harus selalu dalam skala besar.
“Tidak semua harus jadi ilmuwan. Senyum yang menenangkan, tenaga yang membantu, atau ilmu yang dibagikan, itu juga dampak,” katanya.
Salah satu contoh yang diangkat adalah Achmad Syaifuddin, putra daerah Madura yang berhasil masuk jajaran ilmuwan paling berpengaruh di dunia. Melalui inovasi UNUSA-Water, ia menciptakan teknologi sederhana yang mampu mengubah air kotor menjadi air bersih.
“Bayangkan berapa banyak orang yang terbantu. Dari air yang tak layak, menjadi sumber kehidupan,” ujar Prof. Ali Azis, mengajak jamaah merenungkan betapa besar arti sebuah karya bagi kemanusiaan.
Pesan khutbah itu terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, setiap orang punya cara untuk berdampak.
Seorang guru dengan ilmunya. Seorang pekerja dengan dedikasinya. Bahkan pemimpin dengan kebijakan yang adil dan berpihak pada rakyat.
“Keputusan yang menyentuh jutaan orang, itu juga sedekah. Sedekah sesuai peran kita masing-masing,” katanya.
Malam sebelumnya, suasana takbiran di masjid yang sama juga dipenuhi semangat kebersamaan. Gubernur Khofifah Indar Parawansa turut menyaksikan Rampak Bedug bersama ribuan warga, sebelum bersilaturahmi ke para ulama seperti Miftachul Akhyar dan Anwar Manshur.
Namun, di balik kemeriahan itu, ada pesan yang lebih dalam, Idul Fitri bukanlah akhir, melainkan awal untuk menjadi pribadi yang lebih berarti bagi orang lain.
Di penghujung khutbah, satu pesan terasa membekas, bahwa dunia tidak selalu membutuhkan hal besar, tetapi membutuhkan lebih banyak orang yang peduli.
Karena pada akhirnya, kebaikan sekecil apa pun yang memberi manfaat, itulah yang membuat hidup seseorang benar-benar berarti.











