KaMedia – Penghargaan telah diberikan. Juga sudah diserahkan. Tapi, rasanya tetap begitu mengganjal di hati dengan anugerah tim terbaik KONI Jawa Timur Award 2024 yang diberikan kepada tim sepak bola putra Jawa Timur.
Memang tim sepak bola Jawa Timur sukses meraih medali emas dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara 2024. Memang mereka berhasil mengakhiri dahaga raihan medali emas selama 16 tahun.
Perjuangan tim sepak bola Jawa Timur memang luar biasa. Mereka tak terkalahkan selama berlaga di PON XXI. Bahkan, mereka memenangkan final dengan cara yang tak mudah sama sekali. Arek-arek Jawa Timur menang ketika bermain di bawah tekanan ribuan penonton tuan rumah, Aceh, yang memadati seisi stadion.
Bahkan, sebulan sebelum berangkat ke arena PON XXI, mereka mengalami kendala yang luar biasa berat. Kehilangan mayoritas pemain inti yang bergabung ke klub Liga 1 dan 2. Tim pelatih pun harus merakit ulang skuadnya pada ”menit-menit” akhir. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah tentunya.
Dan fakta memang seperti itu. Fakta tersebut tak bisa dipungkiri.
Tim sepak bola Jawa Timur memang menjadi yang terbaik di PON XXI. Mereka meraih medali emas setelah melewati perjuangan yang tak gampang. Tapi, untuk dianugerahi sebagai tim terbaik di KONI Jatim Award 2024 rasanya tetap mengganjal di hati.
Ingat, tim sepak bola Jawa Timur berangkat ke PON XXI lewat jalan yang kontroversial. Ada nilai yang ditanggalkan. Nilai-nilai yang sejatinya begitu diagungkan dalam olahraga.
Jawa Timur tak mengikuti Pra PON XXI cabang olahraga sepak bola. Karena lobi-lobi khusus, Jawa Timur akhirnya diberi jalan lewat babak khusus, melalui babak tambahan Pra PON.
Fakta inilah yang membuat ganjil ketika KONI menganugerahkan penghargaan tim terbaik kepada tim sepak bola. Sepertinya yang dikedepankan hanya unsur popularitas dan melupakan nilai yang diagungkan dalam olahraga.
Semua tahu bahwa sepak bola adalah cabang olahraga paling populer di muka bumi. Maka, ketika tim sepak bola berprestasi, pilih saja sebagai yang terbaik. Mudah, simpel, dan pasti populer. Sepertinya cara itu yang dipilih.
Padahal, kalau mau berkeringat, ada banyak pilihan. Kontingen balap sepeda MTB Jawa Timur yang turun di nomor cross country team relay Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara 2024 misalnya. Mereka meraih medali emas dengan cara yang sangat epik. Dan yang utama, mereka mendapatkannya lewat nilai-nilai yang diagungkan dalam olahraga.
Medali emas itu didapatkan dengan cara yang luar biasa. Bahkan, semua yang berada di Taman Hutan Raya Bukit Barisan, Karo, yang menjadi lokasi balapan pada 5 September 2024 itu tak ada mengira bahwa Jawa Timur yang menjadi pemenang.
Semua orang yang berada di sana pasti menyebut nama kontingan Jawa Barat sebagai peraih medali emas. Situasi tak terlepas dari posisi pembalap Jawa Barat yang berada jauh di depan saat memulai putaran ketiga.
Saat itu, pembalap kedua Jatim, Elvia Tri Wulandari, tertinggal jauh dari pembalap kedua Jabar, Novia Dwi Sapitri. Pembalap ketiga Jatim, Adrian Kurniawan, pun memulai start dengan selisih 1 menit 30 detik di belakang pembalap ketiga Jabar, Mohammad Rafly Fadillah.
Semua pun mengira Jabar yang bakal meraih medali emas. Bahkan, saat itu, jajaran pengurus ISSI Jabar dan para pelatih sudah bersiap menyambut pembalapnya di garis finish. Tapi, ternyata yang muncul di tikungan terakhir adalah pembalap Jatim.
Jatim pun finish pertama dengan catatan waktu 42:55,647 menit. Disusul kemudian Jabar dengan membukukan waktu 44:00,542 menit. Pencapaian yang edan kan. Dari tertinggal 1 menit 30 detik menjadi unggul lebih dari satu menit.
Dan tim balap sepada Jatim yang turun di nomor cross country team relay Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara 2024 beranggota Bima Jamaludin Abdul Jafarob, Elvia Tri Wulandari, dan Adrian Kurniawan.
“Saya tahu kalau saya tertinggal. Saat mengayuh, saya tidak memikirkan pembalap Jabar. Yang ada dalam pikiran saya adalah orang tua. Saya ingin membanggakan mereka, maka saya harus menang,” ungkap Adrian tentang kunci kemenangannya ketika kami berbincang di bawah rindangnya pohon di Taman Hutan Raya Bukit Barisan.
Pembalap asal Blitar itu pun mengayuh pedal secepat mungkin. Tepat di trek lurus di kilometer kedua, Adrian mampu mendekat sekaligus menyalip pembalap Jabar. Bahkan, dia langsung melesat meninggalkan lawannya tersebut dan finish dengan selisih waktu lebih dari satu menit.
Epik kan? Nilai dalam semangat olahraganya dapat kan? Tapi sayangnya balap sepeda tak sepopuler sepak bola.
Miftakhul F.S
Pemerhati Olahraga











