OlahragaSidoarjo

Rafi Wibisono Ditantang Bawa KONI Sidoarjo Naik Kelas: Anggaran Harus Berani, Target Jangan Lagi Runner Up

×

Rafi Wibisono Ditantang Bawa KONI Sidoarjo Naik Kelas: Anggaran Harus Berani, Target Jangan Lagi Runner Up

Sebarkan artikel ini
Rafi Wibisono, calon Ketua KONI Sidoarjo / Foto : Fifin Jun

KaMedia -:Langkah M. Rafi Wibisono untuk maju sebagai calon Ketua Umum KONI Sidoarjo mulai mendapat sambutan serius dari sejumlah cabang olahraga (cabor). Figur muda itu dinilai membawa harapan baru: bukan sekadar melanjutkan rutinitas, tetapi berani membongkar persoalan klasik olahraga Sidoarjo, mulai dari anggaran, sarana-prasarana, hingga pola komunikasi dengan cabor.

Dukungan terbuka salah satunya datang dari Ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Sidoarjo, Puji Daryo. Di hadapan pimpinan dan pengurus cabor yang bernaung di bawah KONI Sidoarjo, Puji Daryo tanpa ragu menyatakan siap mendukung Rafi Wibisono menjadi Ketua Umum KONI Sidoarjo periode mendatang.

Menurutnya, Rafi memiliki kepedulian terhadap olahraga, masih muda, dan dinilai mampu mengayomi seluruh cabor. Kehadiran figur baru diharapkan tidak hanya membawa suasana berbeda, tetapi juga mendongkrak posisi Sidoarjo dalam persaingan olahraga Jawa Timur.

“Insyaallah nanti ke depan, di bawah kepemimpinan Mas Kaji Rafi, Sidoarjo bisa naik,” kata Puji Daryo. Pernyataan itu langsung disambut seruan hadirin, “Aamiin.”

Namun dukungan tersebut sekaligus membawa pesan keras: prestasi olahraga tidak bisa dibangun hanya dengan slogan dan semangat. Ada harga yang harus dibayar, terutama melalui dukungan anggaran yang memadai.

Puji Daryo bahkan secara terang-terangan menyinggung persoalan anggaran. Menurut dia, pembinaan atlet membutuhkan dukungan finansial yang sebanding dengan target prestasi yang dibebankan kepada cabor.

“Anggaran Sampeyan tambahi, Mas Kaji Rafi. Kan ngono gampang toh, asal bisa prestasi. Volinya, bal-balane, termasuk olahraga lainnya,” ujarnya.

Rafi Wibisono dinilai memiliki modal politik untuk memperjuangkan hal tersebut. Saat ini dia merupakan anggota DPRD Sidoarjo sehingga dianggap memiliki ruang komunikasi lebih luas dengan legislatif untuk mendorong penguatan anggaran KONI.

Ditambah lagi, Rafi merupakan putra Bupati Sidoarjo Subandi. Bagi Puji Daryo, posisi tersebut menjadi peluang untuk membangun dukungan yang lebih kuat bagi kemajuan olahraga Sidoarjo.

Tetapi tantangan Rafi tidak berhenti pada persoalan anggaran. Cabor juga membutuhkan ketua KONI yang mudah ditemui, mau mendengar keluhan, dan tidak berjarak dengan pengurus maupun atlet. Karena itu, figur muda seperti Rafi dianggap punya keunggulan tersendiri.

Rafi disebut siap ngopi bersama cabor, siap berdiskusi, bahkan siap menghadiri rapat mendadak ketika dibutuhkan. Bagi para pengurus cabor, komunikasi semacam itu justru menjadi kebutuhan mendasar.

Sebagai Ketua Askab PSSI Sidoarjo, Puji Daryo menegaskan dukungannya. Askab PSSI Sidoarjo, kata dia, siap mengawal proses tersebut dan mendukung Rafi Wibisono memimpin KONI Sidoarjo.

Sebagai generasi muda, Rafi memilih terlebih dahulu meminta izin kepada para senior di lingkungan KONI Sidoarjo. Pengusaha muda tersebut menyebut pencalonannya bukan sekadar ambisi menduduki kursi ketua, melainkan bagian dari keinginan untuk mendedikasikan diri bagi kemajuan olahraga Sidoarjo.

Soal anggaran, Rafi tidak ingin sekadar melempar angka. Dia ingin mengetahui terlebih dahulu kebutuhan riil setiap cabor.

Jika dipercaya memimpin KONI Sidoarjo, Rafi berencana menggelar rapat dengar pendapat (RDP) bersama seluruh cabor. Forum itu akan digunakan untuk membongkar persoalan pembinaan, kebutuhan sarana-prasarana, target prestasi, hingga menghitung kebutuhan anggaran masing-masing cabor secara lebih realistis.

” Kalau memang saya diridai, insya Allah saya akan menggelar RDP. Dari situ baru kita bisa menyesuaikan dengan anggarannya,” kata Rafi.

Bagi Rafi, anggaran tidak boleh berhenti sebagai angka dalam proposal. Penggunaannya harus memiliki korelasi jelas dengan pembinaan dan prestasi.

Cabor yang mampu menghasilkan medali harus mendapatkan apresiasi dan dukungan pembinaan yang memadai. Dengan kata lain, target prestasi harus berjalan beriringan dengan keberanian mengalokasikan anggaran.

Persoalan lain yang juga menjadi sorotan adalah sarana dan prasarana. Rafi mengaku menerima sejumlah masukan bahwa fasilitas latihan sejumlah cabor masih belum sepenuhnya mendukung kebutuhan atlet.

Karena itu, dia membuka opsi menggandeng dunia usaha di Sidoarjo melalui skema kerja sama maupun corporate social responsibility (CSR).

“Beberapa sarana dan prasarana memang kurang mendukung. Ini nanti mungkin kita kerja samakan dengan beberapa perusahaan yang ada di Sidoarjo. Kita menggunakan sistem kerja sama, entah CSR atau apa, yang bisa mendukung atlet agar latihan dengan layak,” jelasnya.

Sidoarjo selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan olahraga Jawa Timur dan berada di papan atas persaingan 38 kabupaten/kota. Namun, bagi Rafi, posisi tersebut belum cukup. Targetnya bukan lagi sekadar bertahan di peringkat ketiga atau menjadi runner up. Sidoarjo harus berani membidik posisi tertinggi.

“Sidoarjo ini sebenarnya sudah besar, nomor dua dari Surabaya. Target kita semoga bisa juara,” pungkas Rafi Wibisono.

Headline

KaMedia – Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menyerahkan insentif kepada sekitar 5.500 guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) se-Kabupaten Sidoarjo. Pemberian insentif ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi para guru TPQ dalam membina…