KaMedia – Pagi itu, halaman Kantor PWNU Jawa Timur di Surabaya tampak berbeda. Deretan bus berwarna-warni terparkir rapi, seolah siap membawa pulang rindu yang telah lama tertahan. Di tengah suasana Ramadhan yang khusyuk, ratusan warga berkumpul, sebagian menggenggam tas sederhana, sebagian lain menggendong harapan untuk bertemu keluarga di kampung halaman.
Sebanyak 15 armada bus diberangkatkan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur dalam program Mudik Gratis 2026, Rabu pagi. Namun, lebih dari sekadar perjalanan fisik, momentum ini menjadi pengingat tentang makna pulang yang sesungguhnya.
Sekretaris PWNU Jatim, HM Faqih, yang melepas keberangkatan bersama jajaran pengurus, LAZISNU, serta perwakilan Dinas Perhubungan dan Polda Jatim, menyampaikan pesan yang sederhana namun dalam: luruskan niat.
“Jangan hanya karena gratis, tapi niatkan untuk silaturahmi,” ujarnya di hadapan para pemudik.
Pesan itu bukan tanpa alasan. Dalam tradisi Islam, menyambung tali silaturahmi bukan hanya mempererat hubungan keluarga, tetapi juga diyakini membawa keberkahan umur dan kelapangan rezeki. Di bulan Ramadhan, nilai-nilai itu terasa semakin hidup.
Di antara para penumpang, ada yang sudah setahun tidak pulang, ada pula yang baru pertama kali merasakan mudik dengan fasilitas gratis. Tujuan mereka beragam: Sumenep, Banyuwangi, Jember, Ponorogo, hingga Pacitan. Total, sekitar 800 hingga 1.000 penumpang diberangkatkan pagi itu.
Ketua panitia, H Imam Muhadi, menjelaskan bahwa jumlah armada tahun ini memang lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya mencapai 20 hingga 25 bus, kini hanya 15 yang tersedia.
“Pemprov Jatim sedang melakukan efisiensi, tapi alhamdulillah program ini tetap berjalan,” katanya.
Meski demikian, pelayanan tidak berkurang. Setiap pemudik tetap mendapatkan bingkisan Lebaran dari LAZISNU Jatim, sebuah sentuhan kecil yang menambah hangat perjalanan panjang mereka.
Di balik kelancaran acara, ada kerja sunyi para relawan LAZISNU yang sejak awal Ramadhan sudah disibukkan dengan proses pendaftaran hingga pengecekan peserta. Bagi mereka, mudik gratis bukan sekadar program tahunan, tetapi bentuk nyata pelayanan kepada masyarakat.
Kegiatan ini juga menjadi penutup rangkaian “Ngaji Kentong Ramadhan 1447 H” yang telah berlangsung hampir sebulan penuh. Melibatkan berbagai lembaga dan badan otonom NU, program tersebut menghadirkan semangat kebersamaan yang kuat, sebelum akhirnya ditutup dengan buka bersama.
Ketika satu per satu bus mulai bergerak meninggalkan halaman kantor PWNU, lambaian tangan dan doa mengiringi perjalanan. Bukan hanya perjalanan menuju kampung halaman, tetapi juga perjalanan spiritual, menghubungkan kembali yang sempat jauh, menguatkan kembali yang sempat renggang.
Di tengah hiruk-pikuk mudik tahunan, kisah 15 bus ini mengingatkan: pulang bukan sekadar sampai tujuan, tetapi tentang kembali pada makna, keluarga, silaturahmi, dan doa yang tak pernah putus.











