KaMedia – Suara gemericik air Kali Bendo mengalir tenang di antara deretan tanaman hijau yang tertata rapi. Di sudut lain, aroma segar olahan lidah buaya menyeruak dari lorong-lorong pemukiman yang asri. Tak banyak yang menyangka, Kampung Literasi Tapak Kali Bendo di Desa Tebel, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo ini menyimpan riwayat masa lalu yang suram: gersang, kumuh, dan langganan tempat pembuangan sampah liar.
Metamorfosis kampung ini bukanlah hasil sihir semalam, melainkan buah dari kesabaran menanam tekad. Suroto, sosok penggagas di balik perubahan besar ini, mengingat betul bagaimana langkah pertamanya diayunkan pada 2016 silam.
”Pertama, 2016 itu kan gersang semua, gersang, orang buang sampah di sini,” kenang Suroto dengan tatapan menerawang.
Berbekal kepedulian yang membakar dada, Suroto mulai merangkul warga sekitar. Namun, mengajak orang lain keluar dari zona nyaman tentu bukan perkara mudah. Dari sekian banyak tetangga yang disapa, awalnya hanya dua orang, gabungan tetangga dekat dan keluarga, yang mau memegang cangkul dan membersihkan semak belakangan di bantaran kali.
Bagi Suroto, tantangan terbesar bukanlah mengangkut tumpukan sampah, melainkan menyamakan frekuensi pemikiran warga. Menggerakkan komunitas menuntut pengorbanan waktu, tenaga, hingga materi pribadi tanpa jaminan hasil yang instan.
”Kuncinya adalah mengubah mindset. Saya ajak warga, ayo lihat ke depan. Jangan tanam padi yang cepat panen, tapi tanamlah kayu jati,” tutur Suroto mantap. “Awalnya memang tidak menghasilkan, butuh waktu panjang. Tapi tujuannya jangka panjang: menciptakan lingkungan yang indah, bersih, dan memberi nilai tambah bagi ekonomi keluarga.”
Benih “pohon jati” itu mulai menampakkan tunasnya pada 2018. Warga sepakat memanfaatkan lahan bantaran untuk menanam lidah buaya (Aloe vera). Pilihan ini menjadi titik balik. Tanaman berduri halus itu tak hanya menghijaukan lingkungan, tetapi juga menjadi mesin penggerak ekonomi warga melalui olahan minuman segar hingga racikan herbal.
Dedikasi tanpa henti itu akhirnya mendapat pengakuan resmi pada tahun 2019, ketika Bupati Sidoarjo mengukuhkan kawasan ini sebagai Kampung Literasi Tapak Kali Bendo
Kini, Kampung Literasi Tapak Kali Bendo telah menjelma menjadi jujugan wisata edukasi yang berdaya saing. Fasilitas kampung kian lengkap: mulai dari perpustakaan warga, sanggar kerajinan macrame, kelas batik hasil kolaborasi komunitas, hingga ruang latihan yoga yang rutin digelar empat kali seminggu setiap akhir pekan.
Uniknya lagi, kampung ini memiliki laboratorium mandiri untuk meneliti potensi lidah buaya. Suroto menyebut lidah buaya sebagai tanaman ajaib. Meski kadar air dasarnya mencapai 92 persen, melalui proses pengolahan yang tepat, kadar seratnya bisa meningkat hingga 2-4 persen dengan khasiat membantu menstabilkan kadar gula darah serta asam lambung.
salah satu inovasi unggulan warga yang lahir dari eksperimen panjang adalah Minyak Lidah Buaya.
”Secara sains, minyak dan air tidak bisa menyatu karena perbedaan molekul. Kami terus mencoba mencampurkannya—melalui kontrol kecepatan putaran, suhu api, dan timing yang presisi—tanpa campuran minyak kelapa. Setelah percobaan berulang kali, kami menemukan formulasi pas di angka 32 persen yang sangat bermanfaat untuk kesehatan kulit dan rambut,” papar Suroto menunjukkan hasil riset swadaya warga.
Sentuhan edukasi di Kampung Tapak Kali Bendo disajikan secara holistik. Anak-anak sekolah yang berkunjung tidak hanya diajak menikmati jelly dan minuman herbal lidah buaya, tetapi juga diajari seni simpul macrame untuk mengasah kreativitas.
Berawal dari tiga pasang tangan yang merambah semak belakangan di parit kotor, Kampung Literasi Tapak Kali Bendo kini menjelma menjadi oase hijau yang tak hanya menyejukkan mata, tetapi juga memberi penghidupan. Sebuah pengingat nyata dari Desa Tebel bahwa perubahan besar selalu berawal dari niat tulus yang ditanam dan dirawat dengan sabar, seperti merawat pohon jati hingga menjulang tinggi.











