KaMedia – Kursi Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Sidoarjo periode 2025-2029 kini resmi diduduki M. Rafi Wibisono. Putra Bupati Sidoarjo Subandi itu langsung dihadapkan pada pekerjaan rumah besar: membangkitkan kembali prestasi olahraga Sidoarjo yang dinilai belum mampu menunjukkan tajinya secara maksimal.
Pelantikan Rafi berlangsung di Pendopo Delta Wibawa, Minggu (13/9/2026). Namun, seremoni tersebut bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Ada tantangan lebih besar yang menanti: membuktikan apakah KONI Sidoarjo mampu keluar dari pola pembinaan yang selama ini belum menghasilkan prestasi sesuai potensi daerah.
Rafi bahkan sejak awal kepemimpinannya memilih memasang target tinggi. Di bawah slogan “Sidoarjo Juara”, ia menjanjikan gebrakan baru dan perubahan dalam tata kelola pembinaan atlet.
” Dengan mengangkat slogan Sidoarjo Juara. Saya sebagai generasi muda yang diberi kesempatan akan menciptakan gebrakan baru dan merealisasikan prestasi baru,” ujar Rafi usai pelantikan.
Janji itu tentu bukan perkara ringan. Sebab, slogan juara tidak akan berarti apa-apa jika hanya berhenti di baliho, seremoni, dan pidato pelantikan. Tantangan sesungguhnya adalah membangun sistem yang mampu melahirkan atlet berprestasi secara konsisten.
Rafi menyadari hal tersebut. Langkah pertamanya adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pemetaan bibit atlet di seluruh cabang olahraga. Pemetaan itu menjadi penting untuk mengetahui cabang mana yang memiliki potensi medali, siapa atlet unggulannya, serta sejauh mana pembinaan selama ini berjalan.
Ia juga mendorong setiap cabang olahraga memiliki “produk unggulan” yang dipersiapkan secara sistematis untuk menghadapi persaingan di level nasional hingga internasional.
Artinya, pembinaan tidak boleh lagi sekadar menggugurkan kewajiban. Atlet potensial harus ditemukan sejak dini, dibina dengan program terukur, dilatih oleh sumber daya manusia yang kompeten, serta ditopang fasilitas yang memadai. Rafi bahkan secara terbuka menegaskan bahwa pola lama harus ditinggalkan.
“Era pembinaan asal-asalan harus ditinggalkan.”
Pernyataan itu menjadi pesan paling keras dari kepemimpinan baru KONI Sidoarjo. Sebab, jika ingin berbicara tentang Sidoarjo Juara, maka yang harus dibenahi bukan hanya atlet di lapangan, melainkan juga sistem di belakangnya.
Mulai dari pembinaan usia dini, program latihan, peningkatan kualitas pelatih, pemetaan potensi atlet, hingga sarana dan prasarana harus dikelola secara profesional.
Rafi mengaku optimistis. Dengan energi generasi muda dan dukungan pemerintah daerah, Sidoarjo diyakini mampu kembali menjadi salah satu barometer olahraga di Jawa Timur.
KONI Sidoarjo kini harus menjawab satu pertanyaan sederhana namun menentukan: mampukah slogan “Sidoarjo Juara” benar-benar berubah menjadi medali, atau kembali menjadi jargon yang menguap setelah seremoni pelantikan?
Empat tahun ke depan akan menjadi panggung pembuktian Rafi. Bukan hanya soal seberapa berani ia membuat gebrakan, tetapi seberapa jauh ia mampu mengubah tata kelola olahraga Sidoarjo menjadi sistem pembinaan yang benar-benar menghasilkan juara.











