KaMedia – Di Kampung Margorukun, Distrik Oransbari, Manokwari Selatan, Papua Barat, kotoran sapi yang selama ini dianggap limbah mulai memiliki nilai baru. Melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 08 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), limbah ternak diolah menjadi biogas untuk memenuhi kebutuhan energi rumah
Inisiatif tersebut mendapat perhatian Menteri Transmigrasi (Mentrans) RI Dr Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara SH MA yang meninjau langsung lokasi, Sabtu (12/9).
Potensi itu berangkat dari kondisi sehari-hari masyarakat. Warga Margorukun banyak memelihara sapi dengan pola ternak yang masih dibiarkan liar. Pada saat yang sama, kebutuhan energi untuk memasak masih menjadi tantangan karena mayoritas warga bergantung pada minyak tanah yang relatif langka.
TEP 08 ITS kemudian menghadirkan reaktor biogas berkapasitas 10 meter kubik. Kotoran sapi difermentasi untuk menghasilkan gas yang dapat digunakan memasak. Jika jumlah ternak ditingkatkan, biogas tersebut juga berpotensi dikonversi menjadi listrik.
Ketua TEP 08 ITS, Dr Ir Arief Abdurrakhman ST MT, menjelaskan, 10 ekor sapi dapat menghasilkan biogas yang cukup untuk kebutuhan memasak dua rumah. Sementara dengan 20 ekor sapi, energi yang dihasilkan berpotensi dikonversi menjadi listrik.
” Dengan 20 ekor sapi, biogas yang dihasilkan dapat dikonversi menjadi listrik dengan daya 2.000 watt selama lima jam per hari untuk satu rumah,” jelas Arief.
Manfaatnya tidak berhenti pada energi. Sisa proses fermentasi atau bioslurry dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk mendukung pertanian masyarakat. Bagi warga Oransbari yang sebagian besar menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian, satu teknologi tersebut membuka manfaat berlapis.
” Dengan memanfaatkan limbah ternak sebagai sumber energi dan mengolah sisa fermentasinya menjadi pupuk, satu inovasi dapat menjawab lebih dari satu kebutuhan masyarakat, mulai dari energi rumah tangga hingga kebutuhan pendukung pertanian,” ujar dosen Departemen Teknik Instrumentasi ITS tersebut.
Mentrans mengapresiasi inovasi yang memanfaatkan potensi lokal tersebut. Menurut Iftitah, kemandirian masyarakat perlu dibangun dengan mengoptimalkan sumber daya yang sudah tersedia di lingkungan mereka. Karena itu, ia mendorong agar pemanfaatan biogas segera dikembangkan dari kebutuhan memasak menuju pembangkitan listrik.
” Konversi listrik harus segera direalisasikan,” tegas Iftitah.
Namun, bagi Iftitah, keberhasilan program bukan hanya soal membangun reaktor dan menghasilkan energi. Teknologi harus tetap hidup setelah tim pendamping meninggalkan masyarakat.
Karena itu, TEP 08 ITS membentuk Tim Kader Patriot (TKP) yang melibatkan masyarakat dan perangkat daerah setempat. Mereka dibekali pengetahuan dan keterampilan agar mampu mengoperasikan, merawat, sekaligus mengembangkan program secara mandiri.
Iftitah menilai keberadaan kader lokal menjadi salah satu kekuatan penting dalam program Transmigrasi Patriot yang dijalankan ITS. Transfer pengetahuan dan teknologi, kata dia, tidak boleh berhenti ketika tim ekspedisi kembali.
” Tidak hanya untuk masyarakat transmigran, tetapi juga untuk masyarakat Papua secara keseluruhan,” ujarnya.
Bupati Manokwari Selatan Bernard Mandacan yang turut meninjau lokasi juga menyambut baik kehadiran TEP 08 ITS. Ia menilai teknologi yang dibawa perguruan tinggi dapat menjadi pemantik bagi masyarakat untuk melihat kembali potensi yang selama ini ada di sekitar mereka.
” Ilmu dan teknologi yang dibawa Tim Ekspedisi Patriot dapat memacu masyarakat untuk berdaya,” ungkap Bernard.
Bagi Arief, program ini sekaligus menunjukkan bagaimana perguruan tinggi dapat membawa ilmu pengetahuan keluar dari ruang kampus dan mengubahnya menjadi solusi yang dirasakan langsung masyarakat.
” Melalui program ini, ilmu dan teknologi yang kami miliki mampu dihilirisasi dan berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya.











