Pemerintahan

Sidak RSUD Soewandhie, Wali Kota Eri Cahyadi Evaluasi Layanan Farmasi hingga Alur IGD

×

Sidak RSUD Soewandhie, Wali Kota Eri Cahyadi Evaluasi Layanan Farmasi hingga Alur IGD

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Eri Cahyadi saat melakukan Sidak ke RSUD Dr Sowandhie/Foto: Pemkot Surabaya

KaMedia – Pemerintah Kota / Pemkot Surabaya akan terus melakukan penyempurnaan dan perbaikan pelayanan di RSUD Dr. Mohamad Soewandhie. Perbaikan itu mencakup sistem antrean, layanan farmasi hingga ketersediaan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Langkah itu dilakukan untuk memberikan kenyamanan kepada masyarakat.

Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi usai melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di RSUD Dr. Mohamad Soewandhie pada Senin (13/7/2026). Sidak dilakukannya usai menerima aduan terkait pelayanan rumah sakit melalui hotline “Lapor Cak Eri”.

“Jadi kami habis menerima aduan di hotline terkait pelayanan Rumah Sakit Soewandhie,” ujar Wali Kota Eri Cahyadi.

Ia menjelaskan poin pertama yang dievaluasi adalah penataan pasien yang mendaftar secara online. Karena itu, Pemkot Surabaya akan memberikan tanda khusus bagi kelompok pasien untuk mengurai kepadatan di dalam rumah sakit.

“Jadi nanti kami beri tulisan di sini pasien yang daftar online. Kalau dia itu daftar online itu ada jamnya perkiraan dia masuk. Kalau jamnya itu jam 09.00 WIB sampai jam 09.20 WIB, maka dia boleh masuk mulai jam 08.30 WIB,” katanya.

Wali Kota Eri menegaskan aturan pembatasan waktu tunggu pasien di area dalam rumah sakit bertujuan untuk menjaga kenyamanan dan ketertiban. “30 menit sebelum jam yang ada di daftar online itu, dia bisa masuk. Berarti kalau datangnya dia pagi, maka dia tidak boleh masuk ke dalam. Dia ada di ruang tunggu luar,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Wali Kota Eri mengimbau masyarakat untuk memperhatikan waktu kedatangan agar tidak terjadi penumpukan. “Maka saya berharap warga Surabaya yang daftar online jamnya jam berapa, maka maksimal 30 menit baru datang ke Rumah Sakit Soewandhie. Agar apa? Agar tidak menunggu di luar. Karena kalau semua masuk di dalam penuh (sesak),” tutur Cak Eri, sapaan lekatnya.

Poin kedua yang menjadi perhatian adalah pengaturan bagi pasien yang belum mendaftar secara daring. Untuk itu, Cak Eri meminta ketegasan waktu alur pelayanan serta kejujuran dalam mengantre.

“Di Rumah Sakit Soewandhie ini juga menerima pasien yang tidak pakai daftar online. Tapi ya begitu, pasien yang tidak daftar online, datanglah pukul 11.00 WIB. Tidak mungkin anda datang pukul 07.00 WIB, minta dahulu, kasihan yang sudah daftar online,” tegasnya.

Bagi pasien yang belum mendaftar, Cak Eri memastikan bahwa Pemkot Surabaya akan menyiapkan ruang tunggu khusus dengan petunjuk yang jelas agar masyarakat tidak bingung.

“Kalau belum punya nomor antrean dari daftar online, datanglah pukul 11.00 WIB. Tapi kalau datang sebelum pukul 11.00 WIB, kami sediakan ruang khusus, ada tulisan pasien belum daftar, agar warga Surabaya tahu. Nah, kalau belum daftar, ya silakan antre. Jangan minta nomor satu, nomor dua, kasihan yang sudah daftar,” jelasnya.

Kontrol unit layanan farmasi

Ketiga, Cak Eri turut mengontrol unit layanan farmasi atau apotek rumah sakit. Untuk mempercepat proses penyerahan obat, ia meminta adanya penambahan personel serta pemberitahuan jaminan waktu layanan berupa sanksi denda kompensasi.

“Lebih dari 15 menit obat non-racikan (rumah sakit) wajib bayar Rp50 ribu. Tapi kalau yang (obat) racikan, maksimal 30 menit. Jadi farmasi nanti kita tambah orang, kita percepat layanannya. Kami matur nuwun (terima kasih) masukannya,” imbuhnya.

Keempat, Wali Kota Eri juga menggarisbawahi keterbatasan kapasitas di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Jika kapasitas tempat tidur telah penuh, ia meminta pemahaman warga jika harus dirujuk ke faskes lain. “IGD ini ada batasannya (kapasitas), ada jumlah kasurnya. Berarti kalau sudah penuh, saya nyuwun tulung (minta tolong) warga Suroboyo sepurane (mohon maaf) sampeyan (anda) harus kami rujuk,” kata dia.

Menurutnya, langkah ini dilakukan agar penanganan medis tetap berjalan optimal dan pasien tidak telantar di area koridor. “Kalau tidak kami rujuk, sampean (pasien) akhirnya menunggu di lorong-lorong rumah sakit, itu tidak bagus. Nanti dikira RSUD Soewandhie tidak melayani,” ujarnya.

Untuk menjaga transparansi informasi keterisian kamar, Cak Eri mengungkap bahwa pihak rumah sakit akan menyediakan monitor pemantau yang dapat diakses langsung oleh masyarakat di area IGD.

“Jadi bisa tahu mana kamar yang kosong atau tidak. Kalau sudah penuh tidak ada kamar kosong, saya minta tolong agar mau dirujuk ke rumah sakit lain yang memang ada kamarnya. Karena di Surabaya ini sudah banyak rumah sakit melayani pasien BPJS,” jelasnya.

Cak Eri pun memberikan peringatan tegas kepada manajemen RSUD Soewandhie agar segera berbenah dan mengutamakan kualitas pelayanan, termasuk bagi pengguna jaminan kesehatan nasional.

“Kepada RSUD Dr Soewandhie, saya minta tolong, jangan sampai saya sidak lagi. RSUD Soewandhie harus cepat. Kami ingin warga Surabaya walaupun pakai BPJS, pelayanannya harus bagus,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas partisipasi aktif masyarakat Surabaya yang terus mengawal perbaikan layanan publik melalui kanal pengaduan.

“Terima kasih kepada warga Surabaya yang sudah lapor ke hotline, masukan anda memperbaiki kinerja rumah sakit di Surabaya, khususnya rumah sakit milik Pemerintah Kota Surabaya. Terus lapor di hotline, karena kesempurnaan pelayanan ini (bisa cepat) kalau ada yang mengawasi bersama khususnya warga Surabaya,” pungkasnya. (*)