HeadlineJatimPemerintahan

Gubernur Khofifah Bersama Menko PMK, Mendikdasmen dan Menteri PPPA Luncurkan Gernas RANA, Tegaskan Sekolah Harus Bebas Kekerasan

×

Gubernur Khofifah Bersama Menko PMK, Mendikdasmen dan Menteri PPPA Luncurkan Gernas RANA, Tegaskan Sekolah Harus Bebas Kekerasan

Sebarkan artikel ini
Gubernur Khofifah bersama para menyeri meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) di Malang / Foto : Pemrpov Jatim.

KaMedia – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) di satuan pendidikan, Senin (13/7).

Peluncuran yang menjadi bagian dari Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 itu digelar di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Kota Malang. Kegiatan diikuti peserta didik dari jenjang TK hingga SMA sebagai penegasan komitmen pemerintah mewujudkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Prosesi peluncuran ditandai dengan penekanan layar LED bersama serta penandatanganan Deklarasi Dukungan Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) dan komitmen pelaksanaan Gernas RANA melalui penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Deklarasi tersebut ditandatangani oleh Gubernur Khofifah, Direktur Jenderal PAUD, Dikdas dan PNFI Kemendikdasmen, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, serta Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK.

Khofifah menegaskan, peluncuran Gernas RANA merupakan momentum penting untuk memastikan setiap anak memperoleh haknya tumbuh dan berkembang di lingkungan yang aman, nyaman, dan terbebas dari kekerasan.

“Setiap anak berhak tumbuh dan berkembang di lingkungan yang aman dan nyaman. Itu berarti mereka juga harus terbebas dari segala bentuk kekerasan,” kata Khofifah.

Menurutnya, satuan pendidikan bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan ruang bagi anak untuk mengembangkan potensi, karakter, dan masa depannya. Karena itu, membangun ekosistem sekolah yang aman menjadi tanggung jawab bersama.

“Anak-anak kita adalah generasi penerus yang akan memegang estafet kepemimpinan bangsa. Karena itu, menghadirkan ruang aman bagi anak merupakan tanggung jawab bersama, mulai dari pemerintah, guru, orang tua hingga masyarakat,” ujarnya.

Khofifah juga mengajak para siswa untuk tidak takut melaporkan apabila mengalami ataupun menyaksikan tindakan kekerasan maupun perundungan, baik secara fisik, verbal, seksual maupun di ruang digital.

Kepada anak-anakku, apabila mengetahui atau mengalami kekerasan, jangan pernah ragu menyampaikan kepada guru, orang tua maupun pihak yang berwenang. Dengan keterlibatan orang dewasa, berbagai bentuk kekerasan bisa dicegah dan ditangani,” tegasnya.

Sementara itu, Menko PMK Pratikno menekankan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab menghadirkan ruang aman bagi anak, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di keluarga, ruang publik, hingga ruang digital.

“Kami mengajak orang tua, guru, dan pemerintah daerah bersama-sama menjamin ruang yang aman dan nyaman bagi anak. Dampak kekerasan terhadap anak sangat besar dan dapat memengaruhi tumbuh kembang mereka di masa depan,” ujarnya.

Di sisi lain, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi mengingatkan bahwa ancaman kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan serius. Berdasarkan data Simfoni PPA, sepanjang 2025 tercatat 21.352 kasus kekerasan terhadap anak.

Sebanyak 62,19 persen korban merupakan anak perempuan, sementara 46,1 persen kasus berupa kekerasan seksual. Ironisnya, sekitar 71 persen kasus justru terjadi di tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak, yakni rumah tangga dan satuan pendidikan.

“Karena itu, mari kita jaga bersama. Jangan ada lagi bullying maupun bentuk kekerasan lainnya terhadap anak-anak kita,” katanya.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan Gerakan Indonesia ASRI merupakan arahan langsung Presiden RI Prabowo Subianto yang kemudian diterjemahkan melalui kebijakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman sebagaimana diatur dalam Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026.

Ia juga mengapresiasi berbagai inovasi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang aman.

“Kami berterima kasih kepada Ibu Gubernur Khofifah yang terus menghadirkan berbagai inovasi, termasuk Gerakan SIKAP di sekolah. Kreativitas ini memperkuat implementasi program-program pendidikan nasional,” pungkasnya.