KaMedia – Ruang Terbuka Hijau (RTH) di tengah kota sering kali berakhir menjadi lahan kosong yang sepi dan membosankan. Enggan aset daerahnya jadi proyek “mati suri”, Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana, langsung turun gunung melakukan peninjauan mendadak ke Taman Tara di Jalan Raya Lingkar Barat, Pagerwojo, Kamis (26/6).
Tidak sendirian, Wabup Mimik memboyong “pasukan penuh” mulai dari jajaran Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Tata Kota (DLHKT), Dinas Kesehatan, hingga Kepala Perpustakaan Kabupaten Sidoarjo. Pesan yang ingin disampaikan jelas: pengelolaan taman kota tidak bisa lagi dilakukan dengan setengah hati.
Di lokasi, Mimik tidak sekadar melihat-lihat. Ia langsung mengeluarkan instruksi tegas kepada DLHKT untuk segera merombak dan menambah fasilitas sarana serta prasarana di Taman Tara. Sidoarjo butuh ruang publik yang hidup, bukan sekadar pajangan tanaman.
“Taman ini kan ada di pusat kota ya, di mana kita harus memberikan fasilitas yang menarik untuk masyarakat agar bisa merasakan bersantai, berwisata, gratis di sini,” cetus Mimik Idayana, menyentil pentingnya hak warga kota atas hiburan gratis yang layak.
Selain menuntut fungsionalitas, Wabup Mimik juga menantang jajarannya untuk berpikir modern. Di era digital ini, taman yang rimbun saja tidak cukup untuk menarik minat warga.
Ia menyarankan agar pengelola segera memasang titik-titik spot foto yang menarik dan kekinian. Langkah provokatif ini diambil karena pemerintah menyadari bahwa daya tarik visual adalah kunci utama untuk memancing antusiasme masyarakat urban agar mau kembali ke taman.
Sebagai langkah awal penyegaran, Pemkab Sidoarjo langsung melakukan aksi nyata dengan menanam pohon pucuk merah di 12 titik strategis area taman.
Sidak ini menjadi alarm keras bagi dinas terkait bahwa publik Sidoarjo haus akan ruang terbuka yang berkualitas. Taman Tara Pagerwojo kini memikul ekspektasi besar: bertransformasi menjadi oase di tengah gersangnya pusat kota.
Masyarakat kini tinggal menagih janji, apakah setelah kunjungan ini Taman Tara benar-benar mampu menjelma menjadi destinasi wisata gratis yang ramah anak dan keluarga, atau justru kembali tenggelam dalam rutinitas birokrasi yang lambat.











