KaMedia – Ketegangan Timur Tengah memasuki babak paling berbahaya. Israel, dengan dukungan terbuka dari Amerika Serikat, resmi mengguncang kawasan lewat serangan militer langsung ke Iran pada Sabtu (28/2) waktu setempat, langkah yang berpotensi menyeret kawasan ke jurang perang terbuka.
Dalih “preemtif” menjadi tameng. Kementerian Pertahanan Israel menyatakan serangan tersebut diperlukan untuk “menghilangkan ancaman terhadap negara.” Namun di balik frasa diplomatis itu, pesan yang tersirat jelas, Israel memilih menyerang lebih dulu sebelum diserang.
Keputusan ini bukan sekadar manuver militer, melainkan eskalasi terang-terangan terhadap Teheran. Status darurat diberlakukan di seluruh wilayah Israel. Pemerintah bersiap menghadapi konsekuensi dari langkah berani atau nekat tersebut.
Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel memperingatkan potensi serangan balasan besar-besaran dari Iran, termasuk melalui rudal balistik dan drone tempur. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, sirene serangan udara meraung di Tel Aviv. Warga diperintahkan berlindung di bunker, sementara bayang-bayang perang regional semakin nyata.
Serangan ini menandai perubahan drastis dari perang bayangan menjadi konfrontasi terbuka. Dengan Washington berdiri di belakangnya, langkah Israel berisiko memicu reaksi berantai di kawasan yang sudah lama rapuh. Dunia kini menahan napas, apakah ini awal dari konflik yang lebih luas, atau sekadar babak baru dalam rivalitas mematikan dua musuh bebuyutan?







