EkonomiGaya HidupJatim

Secangkir Kopi Situbondo dan Mimpi Yang Terbang Lebih Tinggi

×

Secangkir Kopi Situbondo dan Mimpi Yang Terbang Lebih Tinggi

Sebarkan artikel ini
Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama Esyi Lussanti, owner Esy Coffee / Foto : Dok. Pribadi.

KaMedia – Siang itu, Pendopo Pate Alos Besuki tampak lebih hangat dari biasanya. Bangunan bersejarah eks Karesidenan Besuki itu baru saja diresmikan. Para tamu undangan berdatangan, protokoler berjalan rapi, dan agenda kenegaraan tersusun ketat. Namun di sela-sela seremoni resmi itu, ada satu momen kecil yang diam-diam menyimpan makna besar: secangkir kopi Situbondo yang diseduh dengan harapan.

Dalam peresmian pendopo oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, panitia menunjuk satu UMKM lokal untuk menyuguhkan kopi kepada para tamu kehormatan. Pilihan itu jatuh pada Esy Coffee and Roastery, UMKM kopi asal Situbondo yang merupakan binaan Bank Indonesia di Jawa Timur.

Tak ada panggung megah untuk momen ini. Hanya meja penyajian, aroma kopi yang perlahan naik, dan tangan-tangan terampil yang bekerja tenang. Namun justru di sanalah cerita besar bermula.

Saat secangkir kopi disuguhkan, Fadli Zon melontarkan canda khasnya.

“Kopinya ini cuma dipajang, atau memang disiapkan buat menteri?” ujarnya sambil tersenyum.

Candaan sederhana itu mencairkan suasana. Esyi Lusanti, pemilik Esy Coffee and Roastery, dengan sigap memastikan kopi tersaji hangat dan siap dinikmati. Beberapa saat kemudian, Fadli Zon menyeruput perlahan.

“Enak. Ini kopi asli Situbondo ya?” katanya.

Pertanyaan singkat itu membuat mata Esyi berbinar. Ia mengangguk, menjelaskan bahwa kopi tersebut adalah hasil olahan UMKM lokal, kopi dari tanah Situbondo yang dirawat bersama para petani, diproses dengan standar mutu, dan dibina secara berkelanjutan oleh Bank Indonesia.

Bagi Esyi, momen itu terasa nyaris tak masuk akal. Kopi yang selama ini ia racik dengan penuh kesabaran, kini menjadi bagian dari agenda kenegaraan. Bukan sekadar diminum, tapi diakui.

“Kunjungan ini tidak pernah saya impikan,” ucapnya pelan. “Jujur, ini jadi penyemangat besar.” urai Essy.

Namun cerita Esyi bukan tentang dirinya semata. Di balik secangkir kopi itu, ada mimpi kolektif: para petani kopi di lereng-lereng Situbondo, proses panjang pascapanen, dan harapan agar kopi lokal tidak hanya berhenti di pasar kecil, tetapi naik kelas, berdaya saing, dan dihargai.

Ia ingin Esy Coffee and Roastery tumbuh bersama para petani. Bukan meninggalkan mereka, tapi berjalan beriringan. Dari kebun ke cangkir, dari desa ke pendopo, dari Situbondo ke panggung yang lebih luas.

“Semoga kami bisa tumbuh bersama para petani kopi,” katanya. “Membawa kopi Situbondo terbang tinggi.”

Hari itu, peresmian Pendopo Pate Alos Besuki memang menandai hidupnya kembali sebuah bangunan bersejarah. Namun di sudut lain, secangkir kopi telah meresmikan sesuatu yang lain, keyakinan bahwa UMKM lokal, dengan pembinaan yang tepat dan kualitas yang dijaga, bisa berdiri sejajar di ruang-ruang penting negeri ini.

Di Situbondo, kopi hari itu bukan sekadar minuman penyambut tamu. Ia adalah simbol mimpi yang mulai menemukan sayapnya.