KaMedia – Idulfitri biasanya identik dengan meja makan penuh hidangan dan obrolan hangat di dalam ruangan. Namun, suasana berbeda justru hadir di Stadion Unesa Kampus 2 Lidah Wetan. Alih-alih duduk bersila, civitas akademika Unesa memilih berlari di lapangan hijau.
Melalui tajuk Friendly Match, Unesa FC dan Academy Unesa menggelar Halal Bihalal dengan cara yang tak biasa, bertanding melawan komunitas wartawan Pokja Judes (Jurnalis Dewan Surabaya).
Sejak peluit awal dibunyikan, suasana langsung cair. Tawa, teriakan, dan sesekali “jegalan manja” menjadi bumbu pertandingan. Meski bertajuk persahabatan, semangat kompetisi tetap terasa, namun tanpa beban.
Menariknya, laga ini jauh dari format resmi. Tidak ada durasi 2×45 menit ala FIFA. Pertandingan berjalan dengan konsep fun football—cukup satu aturan: bermain sampai lelah, atau dalam istilah lokal, “sak kesele”.
Pergantian pemain pun bebas, memberi kesempatan semua peserta ikut merasakan atmosfer pertandingan. Di lapangan, jabatan seolah ditinggalkan. Wakil Rektor, dosen, tenaga kependidikan, hingga wartawan berbaur menjadi satu tim, sama-sama mengejar bola, sama-sama tertawa saat peluang terlewat.
Bagi Prof. Dr. Sudjarwanto, momen ini lebih dari sekadar olahraga. Sepak bola, menurutnya, adalah bahasa paling jujur untuk menyatukan perbedaan.
“Di lapangan tidak ada sekat. Profesi dan jabatan menyatu dalam kerja sama,” ujarnya.
Hal senada juga dirasakan Ketua Pokja Judes, Inyong Maulana. Ia menyebut kegiatan ini sebagai halal bihalal paling “bertenaga” yang pernah diikuti.
“Di lapangan kita bisa saling jegal secara sportif. Tapi setelah peluit panjang, semuanya kembali nol-nol. Itulah makna saling memaafkan,” katanya.
Pertandingan ini mungkin tidak mencatat skor penting. Namun, yang tercipta jauh lebih berarti: tawa, kebersamaan, dan hubungan yang semakin erat.
Di akhir laga, satu hal menjadi jelas, kadang, cara terbaik untuk saling memaafkan bukan lewat kata-kata, tapi lewat umpan pendek, kerja sama tim, dan sedikit keringat di lapangan.











