Gaya HidupHeadlineSidoarjo

Jemari Tangguh Penenun Asa: Saat Perempuan Disabilitas Menorehkan Warna di Hari Batik Nasional

×

Jemari Tangguh Penenun Asa: Saat Perempuan Disabilitas Menorehkan Warna di Hari Batik Nasional

Sebarkan artikel ini
Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Jawa Timur, ikut memeriahkan Hari Batik Nasional di Sidoarjo dengan menggelar workshop membatik / Foto : Fifin Jun.

KaMedia – Di atas kain putih yang terbentang, lelehan malam hangat mengalir perlahan dari ujung canting. Tak ada tergesa, tak ada keraguan. Pada peringatan Hari Batik Nasional, Jumat (2/10), suasana hangat mewarnai sudut ruang tempat berkumpulnya para perempuan yang tergabung dalam Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Jawa Timur. Jemari mereka, meski menyimpan keterbatasan, tampak begitu cakap dan penuh presisi menggoreskan garis-garis kebaikan.

​Bagi mereka, membatik bukan sekadar mengolah kain dan pewarna. Ini adalah tentang merajut kemandirian dan menegakkan harga diri.

​Program pembinaan batik ini telah mereka tekuni selama dua tahun terakhir di bawah naungan Kementerian Sosial (Kemensos). Sebuah inisiatif pemberdayaan ekonomi yang dirancang agar para perempuan disabilitas tidak melangkah sendirian, apalagi sekadar bergantung pada uluran bantuan sosial.

Hadir memberikan semangat secara langsung, Fatma Saiful Yusuf, istri Menteri Sosial sekaligus Pembina Dharma Wanita Persatuan, menyaksikan dari dekat bagaimana ketelitian para anggota HWDI saat mengolah kain. Senyum dan sapaan hangat menyalakan denyut optimisme di dalam ruangan.

​Ketua HWDI Jatim, Sulistyowati, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya. Ia menegaskan bahwa setiap goresan malam yang ditorehkan para anggotanya adalah bukti nyata dari sebuah daya.

​”Kami ingin membuktikan bahwa perempuan disabilitas juga bisa berkarya dan berdaya. Lewat batik ini, mereka bisa menghasilkan produk yang bernilai jual,” ungkap Sulistyowati dengan nada mantap.

Dalam pelatihan ini, para peserta dibimbing meniti setiap tahapan membatik dari paling mendasar, mulai dari melukis pola awal hingga mengendalikan canting. Dari tangan-tangan tangguh itu, menyeruak motif-motif bunga nan elegan, mengusung keindahan khas batik pesisiran yang kaya akan lekuk dan keterbukaan.

​Namun, karya indah ini tak boleh berhenti hanya di ruang pelatihan. Harapan besar melambung agar program ini terus berkelanjutan dengan dukungan nyata dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta sektor swasta. Tujuannya jelas: membawa batik karya perempuan disabilitas ini menembus etalase pasar yang lebih luas dan kompetitif.

​Bagi Sulistyowati dan seluruh anggota HWDI Jatim, potensi itu ada dan siap mekar, mereka hanya membutuhkan jembatan untuk menghubungkannya dengan dunia luar.

Kuncinya adalah akses dan pendampingan. Kalau diberi ruang, perempuan disabilitas pasti mampu,” pungkas Sulis, menutup percakapan dengan keyakinan yang menghangatkan hati.