KaMedia – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) kembali mencatatkan kiprah dalam pemberdayaan masyarakat pesisir. Melalui program “Pengembangan Kelompok Budidaya Kepiting Soka”, TTL meraih penghargaan dalam ajang CSR & Pengembangan Desa Berkelanjutan (PDB) Awards 2026
Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas upaya TTL dalam mengembangkan potensi ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan, khususnya kelompok nelayan yang berada di kawasan Ring 1.
Ajang CSR & PDB Awards 2026 diselenggarakan oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal bekerja sama dengan Indonesian Social Sustainability Forum (ISSF). Penghargaan diberikan untuk mengapresiasi berbagai inisiatif dunia usaha dalam mendorong pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
Penghargaan diserahkan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Tb. Haeru Rahayu, A.Pi., M.Sc., dalam rangkaian acara yang berlangsung di Gedung Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Jakarta.
Mewakili TTL, penghargaan diterima langsung oleh Dahlia Permata Sari, Corporate Communication Manager PT Terminal Teluk Lamong.
Program budidaya kepiting soka dikembangkan dalam dua tahap, yakni Tahap I pada periode 2024–2025 dan Tahap II pada 2025–2026. Program ini menyasar kelompok nelayan di wilayah Ring 1 TTL, meliputi Kelurahan Romokalisari dan Tambak Osowilangun di Kota Surabaya serta Kelurahan Tenggulunan di Kabupaten Gresik.
Program tersebut lahir dari pemetaan kebutuhan masyarakat. Salah satu tantangan yang diidentifikasi adalah perlunya alternatif mata pencaharian yang dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga nelayan sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya pesisir yang tersedia.
Dari kebutuhan tersebut, TTL mengembangkan budidaya kepiting soka dengan pendekatan sistem apartemen kepiting, yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat pesisir.
Tak sekadar memberikan sarana budidaya, TTL juga mendampingi kelompok penerima manfaat melalui pelatihan, monitoring, dan pendampingan secara berkala. Pelaksanaan program melibatkan kelompok pembudidaya, masyarakat, pendamping, pemerintah kelurahan, serta perusahaan.
Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memantau perkembangan budidaya, mengidentifikasi berbagai kendala di lapangan, sekaligus menentukan langkah tindak lanjut agar kelompok semakin mampu mengelola usaha secara mandiri.
Dampak program pun tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan. TTL melakukan pengukuran terhadap manfaat yang dihasilkan melalui evaluasi independen.
Pada Tahap I, hasil evaluasi Social Return on Investment (SROI) yang dilakukan pihak ketiga mencatat total dampak sosial sebesar Rp939,075 juta, dengan nilai SROI mencapai 4,92.
Artinya, setiap Rp1 investasi yang diberikan melalui program tersebut menghasilkan nilai sosial sebesar Rp4,92. Pengukuran tersebut mencakup dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dihasilkan program.
Sementara itu, tingkat kepuasan masyarakat terhadap program juga menunjukkan hasil positif. Pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) mencapai 3,73 atau 93,24, dengan mutu kinerja A atau Sangat Baik.
Pengukuran dilakukan terhadap tiga tahapan utama, yakni perencanaan, implementasi, serta hasil dan capaian program.
Memasuki Tahap II, pengembangan program menunjukkan sejumlah kemajuan. Pendampingan teknis dilakukan secara konsisten, sementara kelompok penerima manfaat mulai menunjukkan peningkatan kemandirian dalam menjalankan operasional budidaya. Pengelolaan kualitas air dan sarana budidaya juga semakin baik.
Corporate Communication Manager PT Terminal Teluk Lamong, Dahlia Permata Sari, mengatakan bahwa keberhasilan program pemberdayaan tidak semata-mata diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi dari kemampuan masyarakat untuk meneruskan manfaat program secara mandiri.
” Bagi kami, keberhasilan program pemberdayaan bukan hanya dilihat dari terlaksananya kegiatan, tetapi dari sejauh mana masyarakat mampu mengambil peran dan melanjutkan manfaat program secara mandiri. Karena itu, kami mendorong penguatan kapasitas kelompok, tata kelola usaha, dan pendampingan yang dilakukan secara bertahap,” ujar Dahlia.
Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong inovasi di sektor perikanan budi daya. Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Tb. Haeru Rahayu, juga menyampaikan apresiasi terhadap berbagai inovasi dan program pemberdayaan yang dikembangkan dunia usaha untuk mendukung pengembangan sektor perikanan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
” Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada perusahaan-perusahaan yang terus menghadirkan inovasi dan program nyata bagi masyarakat. Kolaborasi seperti ini penting untuk mendorong pengembangan usaha perikanan budi daya, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.” ujarnya
Bagi TTL, penghargaan CSR & PDB Awards 2026 bukan hanya menjadi pengakuan atas program yang telah dijalankan, tetapi juga menjadi dorongan untuk terus meningkatkan kualitas pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Ke depan, TTL berkomitmen memperkuat program TJSL yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, memiliki dampak terukur, serta mendorong kemandirian penerima manfaat.
Melalui pengembangan potensi lokal, peningkatan kapasitas, dan kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya, TTL berupaya memastikan manfaat program tidak berhenti ketika kegiatan selesai.
Harapannya, potensi pesisir yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dapat terus dikembangkan menjadi sumber penghidupan yang produktif dan berkelanjutan, dikelola oleh masyarakat sendiri dan memberi manfaat dalam jangka panjang.











