Gaya HidupHeadlineSurabaya

Dunia Pendidikan di Persimpangan: Kisah “Akal Imitasi” di Era AI

×

Dunia Pendidikan di Persimpangan: Kisah “Akal Imitasi” di Era AI

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Di tengah laju pesat kecerdasan buatan yang kian meresap ke kehidupan sehari-hari, dunia pendidikan pun ikut bergeser dan kegelisahan itulah yang coba ditangkap dalam film Akal Imitasi, produksi DL Entertainment.

Film ini resmi memasuki tahap produksi setelah momen syukuran dan big reading pada Senin (30/3/2026). Bagi para pemain dan kru, pertemuan itu bukan sekadar seremoni, melainkan ruang untuk menyatukan rasa, memahami karakter, dan menyalakan semangat sebelum kamera mulai merekam pada 1 April 2026.

Bagi Bagus Hariyanto, Associated Producer film ini, Akal Imitasi bukan cerita tentang teknologi semata. Lebih dari itu, film ini adalah cermin tentang bagaimana manusia perlahan mengubah cara berpikirnya di tengah kemudahan yang ditawarkan AI.

“Hari ini semuanya terasa instan. AI memang membantu, tapi tanpa sadar kita mulai kehilangan proses berpikir itu sendiri,” ujarnya.

Kegelisahan itu terasa dekat. Film ini seperti mengajak penonton berhenti sejenak dan bertanya: masihkah kita benar-benar belajar, atau sekadar menerima jawaban cepat tanpa proses?

Mengambil latar tahun 2029, Akal Imitasi menghadirkan dunia di mana sistem pembelajaran berbasis AI bernama PIKO menjadi standar di sekolah. Harapannya sederhana menciptakan pemerataan pendidikan. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Akses menjadi pembeda. Siswa dengan layanan premium melesat jauh, sementara yang lain tertinggal. Di tengah jurang itu, hadir sosok tak biasa Rafi, AI humanoid ilegal yang justru mengajarkan sesuatu yang mulai dilupakan cara berpikir.

Dari situlah konflik tumbuh. Teknologi yang seharusnya membantu manusia, perlahan berubah menjadi tantangan bagi esensi belajar itu sendiri.

Naskah film ini ditulis oleh Chairul Rijal Juanda dan disutradarai oleh Zhaddam A Nurdin. Keduanya meramu cerita yang tidak hanya relevan dengan perkembangan zaman, tetapi juga menyentuh nilai-nilai mendasar berpikir kritis, empati, dan pemahaman yang tak bisa digantikan mesin.

Lewat Akal Imitasi, DL Entertainment seolah ingin mengingatkan teknologi boleh berkembang sejauh mungkin, tapi ada hal-hal dalam diri manusia yang tidak seharusnya tergantikan. Dan mungkin, di tengah semua kemudahan ini, justru pertanyaan paling penting adalah apakah kita masih belajar, atau hanya semakin cepat mendapatkan jawaban?