HeadlineSurabaya

PCNU Surabaya Imbau Masjid Dekat Pura Redam Speaker Luar saat Nyepi

×

PCNU Surabaya Imbau Masjid Dekat Pura Redam Speaker Luar saat Nyepi

Sebarkan artikel ini
Ketua PCNU Surabaya, Masduki Toha mengimbau sejumlah masjid dan musala yang berada di dekat pura agar tidak menggunakan pengeras suara luar selama perayaan Hari Raya Nyepi / Foto : PC NU

KaMedia – Suasana Ramadan tahun ini di Surabaya terasa sedikit berbeda. Di tengah semarak ibadah puasa, gema toleransi juga ikut digaungkan. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya mengimbau sejumlah masjid dan musala yang berada di dekat pura agar tidak menggunakan pengeras suara luar selama perayaan Hari Raya Nyepi.

Imbauan tersebut disampaikan Ketua PCNU Surabaya, Masduki Toha, sebagai bentuk penghormatan kepada umat Hindu yang tengah menjalankan ritual keagamaan. Ramadan yang berlangsung hampir bersamaan dengan Nyepi dinilai menjadi momentum penting untuk meneguhkan sikap saling menghargai di tengah keberagaman.

“Masjid dan musala tetap bisa menjalankan kegiatan Ramadan seperti biasa, hanya saja tidak menggunakan speaker luar,” ujar Masduki Toha saat acara buka puasa bersama di Kantor PCNU Surabaya, Sabtu (14/3/2026).

Menurutnya, PCNU Surabaya akan segera menerbitkan surat edaran resmi yang ditujukan kepada para pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) di berbagai wilayah kota. Edaran itu secara khusus menyasar pengurus masjid atau musala yang lokasinya berdekatan dengan pura.

Meski demikian, penggunaan pengeras suara luar tidak sepenuhnya dilarang. PCNU masih memperbolehkan penggunaannya untuk azan dan ikamah. Sementara kegiatan lain seperti tadarus Al-Qur’an, ceramah, maupun pengajian tetap dapat berlangsung dengan menggunakan pengeras suara dalam ruangan.

Data PCNU menunjukkan ada sedikitnya 12 titik MWC di Surabaya yang menjadi perhatian karena berdekatan dengan tempat ibadah umat Hindu. Di lokasi-lokasi inilah imbauan tersebut diharapkan dapat diterapkan secara maksimal.

“Besok kita tindak lanjuti dengan surat agar pengurus MWC ikut berpartisipasi menjaga kenyamanan saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan ritual agamanya,” kata Masduki.

Ia menilai langkah kecil seperti ini memiliki arti besar bagi kehidupan masyarakat yang majemuk. Ramadan dan Nyepi yang hadir hampir bersamaan menjadi pengingat bahwa kerukunan tidak hanya dibicarakan, tetapi juga diwujudkan dalam sikap sehari-hari.

Masduki juga menanggapi kemungkinan adanya perbedaan penetapan 1 Syawal atau Hari Raya Idulfitri. Baginya, perbedaan tersebut merupakan dinamika yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan beragama di Indonesia.

Yang terpenting, kata dia, adalah menjaga tali silaturahmi dan memperkuat persaudaraan.
“Pesan untuk Lebaran tahun ini sederhana: kita kuatkan silaturahmi dan persaudaraan. Kalau hubungan antar umat sudah baik, bangsa ini juga akan semakin baik,” pungkasnya.