Gaya HidupSurabaya

Healing Ramadan di Masjid Al-Akbar: Saat Jiwa Ditentramkan, Raga Dikuatkan

×

Healing Ramadan di Masjid Al-Akbar: Saat Jiwa Ditentramkan, Raga Dikuatkan

Sebarkan artikel ini
Masjid Al-Akbar Surabaya / Foto : Al- Akbar.

KaMedia – Ramadan 1447 Hijriah segera tiba. Di pelataran megah Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, suasana menyambut bulan suci sudah terasa bahkan sebulan sebelumnya. Lampu-lampu taman menyala lembut, lantunan doa kian sering terdengar, dan satu tema besar digaungkan: “Healing Ramadan, Tenang Jiwa, Kuat Raga.”

Bagi masjid terbesar di Jawa Timur itu, Ramadan bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah ruang pemulihan, tempat jiwa-jiwa yang lelah menemukan tenang, dan raga yang penat kembali dikuatkan.

“Tema ini kami siapkan agar Ramadan menjadi ruang pemulihan mental, emosional, sekaligus penguatan fisik, terutama bagi generasi muda,” ujar Humas MAS, H. Helmy M. Noor, Selasa (17/2).

Sebelum gema takbir menyapa, persiapan fisik sudah lebih dulu dilakukan. Selokan sepanjang 1,2 kilometer di sekitar masjid dibersihkan. Empat belas boks sampah disiapkan, termasuk tempat sampah terpilah organik dan non-organik. Jalan sisi timur dan utara direvitalisasi. Bahkan, Green Toilet Difabel dihadirkan sebagai bentuk kepedulian pada jamaah berkebutuhan khusus.

Ramadan di Al-Akbar dimulai dengan kerja bakti dan kepedulian. Sebab kebersihan dan kenyamanan adalah bagian dari ibadah.

Pembukaan program “Healing Ramadan” ditandai dengan Megengan pada 15 Februari lalu. Sebanyak 1.447 apem dibagikan kepada guru, murid, wali murid, dan jamaah di area air mancur masjid, angka yang merepresentasikan tahun 1447 Hijriah.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Dalam sambutannya, ia mengajak masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh kesiapan lahir dan batin.

“Semoga kita bisa menjalani dengan khusyuk dan kita menang lahir dan batin tanpa puasa yang bolong,” ujar Khofifah.

Salah satu program unggulan tahun ini adalah Majelis “One Day One Khatam.” Setiap sore bakda Asar selama 1–30 Ramadan, jamaah berkumpul dalam majelis yang dirancang menyerupai suasana mengaji di Tanah Suci. Setiap majelis diisi 30 orang, masing-masing membaca satu juz hingga genap 30 juz dalam sehari. Jika peserta lebih banyak, majelis dapat dibagi yang penting, satu kelompok tetap menuntaskan satu Al-Qur’an setiap hari.

Usai khataman, jamaah melanjutkan dengan Ngaji Ngabuburit dan Buka Puasa Bersama. Sebuah rangkaian yang menenangkan jiwa sekaligus menguatkan ukhuwah. Selain itu, program ibadah lainnya meliputi Shalat Tarawih, Tadarus Al-Qur’an, Qiyamul Lail 10 hari terakhir, hingga Peringatan Nuzulul Qur’an pada 17 Ramadan.

Ramadan di Al-Akbar juga hadir dalam wajah sosial. Pasar murah digelar menjelang Ramadan. Donor darah dibuka hampir setiap hari selama periode tertentu. Sebanyak 200 marbot mendapat layanan cek kesehatan gratis. Program “MAS Berbagi” pada 21 Ramadan akan menyasar dhuafa, anak yatim, penyandang disabilitas, guru, dan marbot di Taman Asmaul Husna. Setiap senja, buka puasa bersama digelar, menyatukan berbagai latar belakang dalam satu hidangan keberkahan.

Tak hanya ibadah dan sosial, Ramadan di Al-Akbar juga menyentuh sisi kreatif. Museum “Masa Lalu dan Masa Kini” menghadirkan perjalanan sejarah dan refleksi peradaban Islam. Festival Ramadan mengangkat kajian turats dan literasi digital, menghubungkan tradisi klasik dengan tantangan era modern.

Menariknya lagi, ada Liga Marbot Soccer dan “Ngaji Bareng Bintang Bola” di Mini Soccer MAS pada 2–8 Maret 2026. Di sinilah semangat “Kuat Raga” diwujudkan—bahwa Ramadan bukan alasan untuk melemah, melainkan momentum menyehatkan diri.

Ramadan 1447 H di Masjid Al-Akbar bukan hanya tentang jadwal kegiatan yang padat. Ia adalah undangan untuk pulang, pulang kepada ketenangan, kepada kebersamaan, kepada Tuhan.

Di bawah kubah biru yang menjulang, Ramadan tahun ini ingin mengajarkan satu hal sederhana: ketika jiwa ditenangkan dan raga dikuatkan, maka ibadah akan menemukan maknanya yang paling dalam.