KaMedia – Suara tabuhan geundrang dan rapai menggema hangat di Amel Hotel Convention Hall, Banda Aceh, Senin (19/10). Penabuhan alat musik tradisional tersebut menjadi simbol dibukanya Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur–Aceh yang digagas oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah.
Bukan sekadar seremonial biasa, pertemuan dua daerah di ujung pulau ini menghasilkan dampak ekonomi yang nyata: transaksi perdagangan menembus angka Rp1,21 triliun.
Melalui ajang ini, 149 pelaku usaha dari Jatim dan Aceh duduk bersama menambalkan kebutuhan satu sama lain. Jawa Timur memasok benih pertanian, pakan udang, daging unggas, hingga produk manufaktur dan tekstil. Sebaliknya, Jawa Timur memboyong hasil laut melimpah Aceh seperti cakalang, tuna, dan komoditas pinang untuk kebutuhan industri di Jawa.
Di balik angka triliunan tersebut, ada kerja keras panjang. Gubernur Khofifah mengungkapkan bahwa timnya melakukan kurasi produk minimal dua kali dan menggelar business matching (termasuk secara daring) hingga lebih dari lima kali sebelum acara digelar.
”Kita ingin memperpendek rantai distribusi dan memperkuat integrasi pasar domestik,” terang Khofifah.
Kerja sama ini juga menatap masa depan yang lebih luas. Selain menandatangani nota kesepahaman antara 5 Perangkat Daerah dan 4 Asosiasi Bisnis, Aceh turut membuka pintu selebar-lebarnya bagi investasi dan sektor pariwisata.
”Orang Jawa Timur harus bisa merasakan indahnya Aceh. Baru dianggap ‘Indonesia Raya’ kalau sudah menginjakkan kaki di Kilometer Nol,” seloroh Wagub Aceh Fadhlullah optimis.
Sinergi Jatim dan Aceh ini dibuktikan bukan hanya soal jual-beli, tetapi tentang bagaimana dua provinsi besar saling bergandengan tangan untuk tumbuh dan sejahtera bersama.











