Gaya HidupSurabaya

Cahaya Drone dan Harapan Santri: Malam Peluncuran Talenta Digital di Al-Yasmin Surabaya

×

Cahaya Drone dan Harapan Santri: Malam Peluncuran Talenta Digital di Al-Yasmin Surabaya

Sebarkan artikel ini
Di atas ribuan jamaah yang memadati Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, cahaya-cahaya drone menari, membentuk tulisan “Allah” / Foto : Istimewa.

KaMedia – Langit malam Surabaya, Ahad (5/4), tak hanya gelap dan sunyi. Di atas ribuan jamaah yang memadati Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, cahaya-cahaya drone menari, membentuk tulisan “Allah” dan “Muhammad”, lalu berganti menjadi simbol-simbol harapan baru: Talenta Digital Santri.

Di bawah langit yang berpendar itu, Muhammad Iqdam Kholid, yang akrab disapa Gus Iqdam bersama Emil Elestianto Dardak menekan tombol peluncuran program yang menjadi jembatan antara tradisi pesantren dan masa depan digital.

Sebanyak 21 formasi drone silih berganti muncul, memikat perhatian. Ada merah putih, wajah tokoh, hingga pesan-pesan inspiratif seperti “Santri adalah inovator”. Malam itu bukan sekadar pertunjukan teknologi, ia adalah pernyataan zaman.

Gus Iqdam tampak terkesan. Ini kali pertamanya menyaksikan atraksi drone secara langsung, terlebih ketika mengetahui bahwa teknologi tersebut merupakan karya santri.

“Santri itu memang harus bisa jadi apa saja,” ujarnya, suaranya mengalir di hadapan jamaah. Bisa jadi pemimpin, bisa berdakwah, tapi juga harus maju teknologinya.” ujarnya.

Bagi pengasuh Majelis Taklim Sabilu Taubah itu, masa depan dakwah tak bisa dilepaskan dari perkembangan zaman. Ia bahkan berkomitmen mengirimkan santri-santrinya untuk belajar teknologi di Al-Yasmin.

“Kalau akhlak dan teknologi digabung, dakwah akan lebih mudah diterima. Santri harus jadi rohmatan ngaji iya, canggih juga iya,” tuturnya.

Namun di balik gemerlap teknologi, Gus Iqdam mengingatkan satu hal yang tak boleh luntur: akhlak. Ia menyinggung konsep hablumminannas, hubungan antar manusia yang menurutnya justru lebih menantang daripada hubungan dengan Tuhan.

Ia mengisahkan tentang “kebangkrutan” manusia, bukan karena kekurangan harta, melainkan karena menyakiti sesama. Pesan itu mengalir tenang, namun mengendap dalam.

Di sisi lain, Emil Elestianto Dardak melihat malam itu sebagai simbol harmoni antara nilai dan inovasi. Ia menyebut Pesantren Al-Yasmin sebagai ruang yang mempertemukan akar tradisi dengan semangat digital generasi muda.

Menurutnya, inilah wajah baru pesantren tetap berpijak pada nilai, namun berani menatap dunia.

“Pesantren ini menyambungkan tradisi dengan aransemen digital Generasi Z. Dan malam ini kita melihat keindahan itu,” katanya.

Sementara itu, pengasuh pesantren, Helmy M Noor, menjelaskan bahwa Talenta Digital Santri bukan sekadar program pelatihan. Ia adalah upaya membentuk generasi santri yang melek teknologi, tangguh dalam wirausaha, dan tetap berakar pada nilai keislaman.

Di tengah derasnya arus digital, program ini ingin memastikan santri tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama bahkan penggerak perubahan.

Malam itu, drone-drone perlahan meredup. Namun pesan yang ditinggalkan tetap menyala: bahwa masa depan santri bukan hanya di mimbar dan kitab, tetapi juga di layar, jaringan, dan dunia tanpa batas.

Dan dari Al-Yasmin, cahaya itu baru saja dinyalakan.