KaMedia – Langit di Surabaya belum sepenuhnya cerah ketika warga Osowilangun mulai membuka pintu rumah mereka, Senin pagi. Sisa lumpur masih menempel di teras, karung-karung pasir tergeletak di sudut gang, dan bau khas air pasang masih samar terasa.
Namun satu hal yang paling mereka syukuri, air telah surut. Hujan berintensitas tinggi yang turun beberapa hari terakhir, berpadu dengan kenaikan muka air laut, sempat membuat kawasan ini tergenang. Air bahkan meluap hingga ke jalan utama, mengganggu aktivitas warga dan arus lalu lintas. Di tengah kekhawatiran itu, harapan perlahan datang bersamaan dengan deru mesin pompa dan suara alat pengeruk.
Tak lama setelah genangan menyusut, jajaran Pemerintah Kota Surabaya langsung bergerak. Petugas dari Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) turun ke lapangan menelusuri saluran bawah tanah. Mereka membuka manhole satu per satu, memeriksa aliran, dan menemukan biang keladi yang kerap terulang, tumpukan sampah yang menyumbat gorong-gorong.
Di tepian Sungai Kalianak, ekskavator bekerja perlahan namun pasti. Karung-karung berisi sampah diangkat dari dalam saluran. Pengerukan dilakukan bertahap agar aliran air kembali normal tanpa menimbulkan gangguan baru.
Kepala DSDABM Surabaya, Hidayat Syah, mengatakan bahwa sejak pagi tim sudah menyisir titik-titik rawan. Koordinasi dengan petugas lalu lintas pun dilakukan karena sebagian pekerjaan berada di bawah badan jalan utama.
“Fokus kami membersihkan sampah di dalam saluran bawah jalan agar aliran kembali normal. Pengerukan masih terus dilakukan secara bertahap supaya tidak ada lagi material yang menghambat aliran air,” ujarnya.
Bagi warga, kehadiran petugas yang siaga 24 jam memberi rasa tenang tersendiri. Rumah pompa dinyalakan tanpa henti dengan sistem kerja bergantian. Tim pagi, sore, hingga malam berjaga, memastikan setiap kenaikan debit air dapat segera direspons. Bahan bakar dan sarana pendukung pun disiapkan agar tak ada jeda dalam penanganan.
Osowilangun memang bukan kawasan yang berdiri sendiri. Ia terhubung dengan jaringan sungai dan saluran utama lain, termasuk Sungai Kandangan dan alur menuju laut yang sebagian berada di bawah kewenangan pemerintah pusat. Karena itu, penanganan banjir tak bisa dilakukan secara parsial. Sinergi lintas instansi menjadi kunci.
Di sisi lain, peringatan dari BMKG Juanda tentang potensi banjir rob pada 13–20 Februari 2026 serta cuaca ekstrem pada 15–21 Februari menjadi pengingat bahwa kewaspadaan belum boleh surut. Hujan lebat, angin kencang, hingga kemungkinan angin puting beliung masih mengintai.
Namun di balik semua itu, ada pelajaran yang kembali ditegaskan, menjaga saluran tetap bersih adalah tanggung jawab bersama. Sampah yang dibuang sembarangan, sekecil apa pun, bisa menjadi sumbatan yang berdampak luas ketika hujan dan pasang datang bersamaan.
Kini, ketika aliran air mulai kembali ke jalurnya, Osowilangun pelan-pelan menata diri. Anak-anak kembali bermain di gang yang mulai kering. Warung-warung membuka kembali lapaknya. Warga saling menyapa, berbagi cerita tentang malam-malam cemas yang telah lewat.
Pemkot Surabaya berharap, setelah seluruh proses normalisasi selesai, kondisi lingkungan di kawasan ini benar-benar pulih dan lebih tangguh menghadapi cuaca ekstrem ke depan.
Sementara itu, layanan darurat 112 dan WhatsApp 081-131-112-112 tetap disiagakan bagi warga yang membutuhkan bantuan.
Air mungkin datang dan pergi, tetapi gotong royong dan kesiapsiagaan adalah arus yang harus terus mengalir di Kota Pahlawan.











