KaMedia – Perjalanan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menuju lokasi pengungsian korban gempa bumi Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (24/8), tidak sekadar menjadi perjalanan membawa bantuan.
Di tengah jalan menuju Lokasi Pengungsian Benteng Jawa, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Khofifah beberapa kali meminta kendaraan berhenti. Ia turun dan menghampiri warga yang ditemuinya di sepanjang perjalanan.
Dengan senyum, Khofifah menyapa mereka sekaligus membagikan makanan ringan secara langsung. Pertemuan itu berlangsung singkat, tetapi meninggalkan suasana hangat di tengah situasi sulit yang masih dirasakan masyarakat akibat bencana.
Wajah-wajah anak yang semula serius perlahan berubah ceria. Mereka antusias menerima makanan ringan yang diberikan Khofifah. Warga pun menyambut kehadirannya dengan hangat.
Bagi Gubernur Khofifah, momen sederhana itu justru memiliki arti besar. Misi kemanusiaan, menurutnya, tidak berhenti pada pengiriman bantuan logistik. Ada hal lain yang tak kalah penting, yakni memastikan masyarakat terdampak bencana merasakan kehadiran, perhatian, dan dukungan moril dari saudara-saudaranya di daerah lain.
” Dalam perjalanan menuju lokasi pengungsian, kami mendapat kesempatan untuk bertemu dan menyapa masyarakat secara langsung. Sapaan sederhana sering kali justru menghadirkan kedekatan yang sangat bermakna,” ungkapnya.
Bencana membuat banyak hal berubah dalam sekejap. Rumah, rutinitas, sekolah, hingga rasa aman yang selama ini dianggap biasa, harus ditinggalkan sementara.
Karena itu, Khofifah menilai masyarakat terdampak membutuhkan lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan dasar.
Kehadiran pemerintah, relawan, tenaga kesehatan, maupun masyarakat dari daerah lain dapat menjadi penguat psikologis bagi mereka yang sedang menghadapi masa sulit.
“Bantuan tentu sangat penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, kehadiran dan perhatian juga dibutuhkan agar saudara-saudara kita merasakan bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi musibah ini,” katanya.
Di antara warga yang ditemuinya, perhatian Khofifah tertuju kepada anak-anak. Bagi dia, anak-anak harus tetap memiliki ruang untuk tersenyum, merasa aman, dan mempertahankan semangat belajar meski berada dalam situasi pengungsian.
“Anak-anak harus tetap sehat, ceria, dan semangat belajar. Dalam situasi apa pun, mereka harus terus kita jaga karena merekalah generasi penerus yang akan melanjutkan pembangunan bangsa,” tuturnya
Makanan ringan yang dibagikan Khofifah mungkin bukan sesuatu yang besar. Namun, di tengah kondisi bencana, pemberian sederhana itu menghadirkan kegembiraan yang tidak kecil.
Senyum anak-anak menjadi bagian paling hangat dari perjalanan tersebut. Bagi Khofifah, keceriaan mereka menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar.
” Yang kami bagikan mungkin sederhana, tetapi mudah-mudahan dapat menghadirkan sedikit kebahagiaan. Senyum anak-anak menjadi energi sekaligus pengingat bagi kita semua untuk terus menumbuhkan kepedulian,” katanya.
Momen tersebut seolah memperlihatkan wajah lain dari sebuah misi kemanusiaan. Di balik bantuan logistik, ada perjumpaan antarmanusia. Di balik distribusi kebutuhan pokok, ada sapaan dan perhatian. Dan di tengah suasana duka, masih ada senyum anak-anak yang memberi sedikit warna.
Kunjungan Khofifah ke Manggarai Timur merupakan bagian dari rangkaian dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur bagi masyarakat terdampak gempa bumi Flores.
Bantuan tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan selama berada di pengungsian, tetapi juga menjadi bagian dari dukungan terhadap proses pemulihan masyarakat.
Khofifah menegaskan bahwa solidaritas antardaerah merupakan bagian dari semangat gotong royong yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia.
“Bencana tidak mengenal batas wilayah. Ketika saudara-saudara kita di NTT mengalami musibah, maka sudah menjadi kewajiban moral kita untuk hadir, bergotong royong, dan memberikan dukungan sesuai kemampuan,” tegasnya.
Menurut Khofifah, proses pemulihan pascabencana tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Kebutuhan masyarakat akan berkembang seiring dengan proses pemulihan kehidupan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga perekonomian.
Karena itu, ia mendorong koordinasi erat antara pemerintah daerah, petugas lapangan, tenaga kesehatan, relawan, dan seluruh unsur masyarakat agar kebutuhan warga dapat dipetakan dan bantuan disalurkan secara tepat.
” Yang terpenting bukan hanya memastikan bantuan tiba di lokasi, tetapi juga menyalurkan bantuan tersebut diterima dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” jelasnya.
Pada akhirnya, perjalanan menuju pengungsian itu meninggalkan sebuah pesan sederhana: dalam situasi bencana, bantuan tidak selalu berbentuk barang.
Kadang, ia hadir dalam bentuk kendaraan yang berhenti di pinggir jalan. Dalam bentuk seorang pemimpin yang turun menyapa. Dalam bentuk sebungkus makanan ringan yang berpindah ke tangan seorang anak.
Dan yang paling penting, dalam bentuk sebuah keyakinan bahwa di tengah musibah, mereka tidak sendirian.
” Di tengah musibah, gotong royong, kepedulian, dan persaudaraan menjadi kekuatan kita. Semoga bantuan dan kehadiran kami dapat sedikit meringankan beban sekaligus menambah semangat saudara-saudara kita untuk bangkit dan pulih kembali,” pungkas Khofifah.











