Gaya HidupNasionalPemerintahan

Era AI Menggila, Humas Diingatkan: Pesan Tanpa Nurani Bisa Kehilangan Makna

×

Era AI Menggila, Humas Diingatkan: Pesan Tanpa Nurani Bisa Kehilangan Makna

Sebarkan artikel ini
Aulia Dikmah Kiswahono ( Baju Merah ), Pranata. Humas Kemendukbangga / BKKBN Jawa Timur / Foto : Dokpri.

KaMedia  – Di tengah masifnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam komunikasi publik, sentuhan kemanusiaan dinilai tak boleh tersingkir. AI boleh cepat dan canggih, namun pesan tanpa empati berisiko kehilangan makna, terutama saat menyentuh isu keluarga dan nilai kemanusiaan.

Hal itu ditegaskan Pranata Humas Kemendukbangga/BKKBN Jatim, Aulia Dikmah Kiswahono, saat menjadi narasumber bedah buku Antologi Transformasi Kehumasan di Era AI dan Literasi Kesehatan Kehumasan.

“AI mungkin bisa bicara, tapi hanya manusia yang bisa menyentuh hati. Dalam konteks keluarga, suara tanpa nurani bukan solusi,” tegas Aulia.

Ia menilai tantangan terbesar era digital bukan sekadar mengadopsi AI, tetapi menjaga agar komunikasi publik tetap beretika, berempati, dan berpusat pada manusia. Terlebih, isu sensitif seperti parenting, kesehatan reproduksi, hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) tak bisa disampaikan semata lewat sistem otomatis.

Aulia mengingatkan, penggunaan AI tanpa human in the loop (pengawasan manusia) berpotensi mereduksi nilai kasih sayang dan kearifan budaya lokal. Padahal, data menunjukkan 93,52 persen remaja Indonesia aktif di media sosial, menjadikan AI dan chatbot sangat dekat dengan ruang komunikasi keluarga.

“Pesan yang benar secara teknis belum tentu tepat secara emosional. Tanpa empati, pesan bisa melukai,” ujarnya.

Ketua Umum Iprahumas Indonesia Fachrudin Ali menambahkan, peran humas ke depan bukan hanya mengikuti teknologi, tetapi menjaga makna di tengah banjir data dan informasi artifisial.

“Humas harus menjadi penjaga nurani di ruang publik,” tegasnya.

Pesan ini menegaskan satu hal,di era AI, teknologi boleh memimpin, tetapi kemanusiaan tetap harus memegang kendali.