KaMedia – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bergerak cepat meninjau langsung penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Selasa (20/10) malam. Setibanya di Posko Penanganan Kebakaran Hutan Cempaka, Desa Dayurejo, Prigen, Kabupaten Pasuruan, Gubernur Khofifah langsung memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) penanganan darurat.
Di hadapan jajaran Forkopimda dan tim gabungan, Gubernur Khofifah menegaskan bahwa keselamatan seluruh petugas dan relawan di lapangan merupakan prioritas tertinggi yang tidak boleh ditawar.
“Yang harus kita lakukan sekarang adalah meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian para relawan. Keselamatan manusia dan keberlanjutan kehidupan adalah yang utama,” tegas Khofifah usai Rakor.
Peringatan tegas ini disampaikan menyusul duka mendalam atas tragedi karhutla di kawasan Gunung Bromo sebelumnya, yang mengakibatkan 5 relawan gugur dan 1 relawan masih menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Angin kencang dan perubahan cuaca ekstrem yang tak terprediksi menjadi faktor utama tingginya risiko di medan pegunungan.
Orang nomor satu di Pemprov Jatim tersebut memastikan seluruh korban gugur telah mendapatkan penanganan serta santunan melalui takziyah tim Dinsos dan BPBD Jatim, sementara seluruh biaya pengobatan korban luka ditanggung sepenuhnya oleh Pemprov Jatim.
Berdasarkan laporan Dinas Kehutanan Prov. Jatim, hingga saat ini masih terdeteksi 92 hotspot di kawasan Tahura R. Soerjo. Kawasan seluas 27.868,30 hektare yang membentang di 6 kabupaten/kota ini merupakan benteng ekosistem vital di Jawa Timur.
Untuk menaklukkan si jago merah, sebanyak 493 personel gabungan yang terdiri dari Polisi Kehutanan, Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga relawan dan warga lokal terus berjibaku memadamkan api di wilayah Pasuruan, Mojokerto, Malang, dan Kota Batu.
Guna mempercepat pemadaman di medan terjal, Pemprov Jatim telah mengajukan bantuan helikopter untuk operasi pengeboman air (water bombing).
Dampak kebakaran tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga pasokan air bersih warga. Tercatat 10.260 meter (10,2 km) pipa air bersih rusak diterjang api di tiga desa penyangga Kabupaten Pasuruan, yaitu, Desa Tambaksari: 4.000 meter, Desa Jatiarjo: 3.750 meter, Desa Dayurejo: 2.510 meter.
Menanggapi krisis ini, Pemprov Jatim bersama Pemkab Pasuruan langsung menyiapkan strategi penanganan darurat dan jangka panjang.
”Jangka pendeknya kita lakukan dropping air bersih. Untuk jangka panjang, kita persiapkan sumur bor dan penarikan pipa baru dari sumber air yang ada agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” lanjut Khofifah.
Mengingat BMKG memprediksi puncak musim hujan baru akan terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027, Pemprov Jatim tidak hanya memaksimalkan ikhtiar medis dan teknis di lapangan, tetapi juga melengkapinya dengan ikhtiar spiritual.
Gubernur Khofifah resmi menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 400.8.1/37860/011.2/2026 tertanggal 20 Oktober 2026 tentang Pelaksanaan Salat Istisqa’. SE ini ditujukan kepada Bupati/Wali Kota, pimpinan ormas Islam, MUI, Dewan Masjid, dan pengasuh pondok pesantren se-Jawa Timur untuk menggelar Salat Istisqa’ secara masif di daerah masing-masing.
”Kemarin sifatnya seruan lisan, hari ini saya menandatangani Surat Edaran resmi. Kita mohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan yang penuh manfaat dan membawa rahmat bagi Jawa Timur,” pungkasnya.
Pemprov Jatim mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, memperbanyak istigfar, menghemat penggunaan air bersih, serta tidak melakukan aktivitas pembakaran apa pun di sekitar kawasan hutan.











