KaMedia – Jalur pedestrian yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi warga, kini berubah menjadi jebakan mematikan. Hilangnya penutup gorong-gorong di fasilitas publik Sidoarjo tak ubahnya “ranjau darat” yang siap menelan korban kapan saja.
Di tengah ancaman pejalan kaki terperosok ke dalam lubang kelam tersebut, respon pemerintah daerah justru dinilai lamban. Bukannya langsung menutup bahaya yang menganga, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Sidoarjo hanya memberikan janji manis dan sebatas “penanganan tambal sulam”.
Makhmud, menyebut masalah ini sebagai hal yang tidak boleh memakan korban hanya karena “persoalan sepele”. Namun, fakta di lapangan menunjukkan respon awal Pemkab hanya sebatas memasang water barrier dan barikade plastic, sebuah langkah basa-basi yang tak benar-benar menghilangkan ancaman.
”Nanti akan kami tindaklanjuti, sementara kami beri water barrier dulu,” kata Makhmud, Minggu (11/10).
Langkah petugas yang baru diterjunkan untuk “memeriksa ukuran dan material” pasca-ramai dinilai telat. Publik mempertanyakan, mengapa harus menunggu jalur pedestrian bolong dan membahayakan warga sebelum fungsi pengawasan berjalan?
Makhmud mengklaim penutup pengganti, baik beton bertulang pracetak maupun pelat besi harus dirancang kuat dan presisi rata dengan jalan agar aman diinjak. Mantan Camat Taman itu menargetkan perbaikan diselesaikan secepatnya dan berjanji menyisir titik-titik lain yang berpotensi sama.
‘ Akan kita selesaikan secepatnya dan juga akan kita sisir wilayah lain yang mengalami kondisi serupa ” paparnya.
Namun bagi pejalan kaki Sidoarjo, janji “secepatnya” adalah pertaruhan keselamatan saban hari. Selama lubang-lubang tersebut belum tertutup rapat secara permanen, hak paling mendasar pejalan kaki atas rasa aman jelas-jelas telah diabaikan.











